Kamis, 19 Maret 2020

Nabi Khidir Dan Dongeng Pertemuannya Dengan Nabi Musa

Sebagaimana yang diketahui, bahwa Allah Swt mewakilkan para utusannya yang berasal dari golongan umat insan itu jumlahnya sangat banyak, telah disebutkan bahwa jumlah mereka ialah 124.000 orang nabi dan 315 orang para rasul. Banyak perbedaan antara nabi dan rasul salah satu diantaranya nabi cuma diutus untuk kaumnya saja sedangkan rasul untuk seluruh kaum. Dalam jumlah yang banyak tersebut, belum dimengerti secara pasti wacana siapa pun mereka tergolong nama dan dari mana asal usulnya nabi dan rasul tersebut. Hanya sebagian kecil saja yang Allah sampaikan untuk diberitahukan kepada umat insan saat ini dalam kitab al Alquran, itupun tidak lengkap seperti tentang Luqman al Hakim dan Khidir. Berikut yakni pembahasan wacana nabi Khidir dan kisah pertemuannya dengan nabi Musa selengkapnya. Khidir ialah nama yang diberikan terhadap seorang nabi yang masih misterius keberadaannya, kisahnya terdapat dalam Surah Al-Kahf ayat 65-82. Selain kisah perihal Nabi Khidir yang mengajarkan tentang ilmu nasihat dan kecerdikan kepada Nabi Musa, asal seruan dan cerita yang lain perihal Nabi Khidir juga tidak banyak disebutkan dalam ayat tersebut. Dalam buku berjudul “Mystical Dimensions of Islam” , oleh penulis Annemarie Schimmel, Khidir dianggap selaku salah satu nabi dari empat nabi dalam cerita Islam diketahui selaku ‘Sosok yang tetap Hidup’ atau ‘Abadi’. Tiga yang lain yakni Idris, Ilyas, dan Isa. Khidir kekal sebab beliau dianggap telah meminum air kehidupan, dibilang bahwa Khidir sudah berusia lebih dari enam ribu tahun. Ada beberapa pendapat yang menyatakan bahwa Khidir ialah masih sama dengan seseorang yang bernama Elia. Ia juga diidentifikasikan sebagai St. George. Di antara pendapat permulaan para cendikiawan Barat, Rodwell menyatakan bahwa “Karakter Khidir dibuat dari Yitro.” Dalam dongeng literatur Islam, satu orang mampu bermacam-macam sebutan nama dan julukan yang telah disandang oleh Khidir. Beberapa orang menyampaikan Khidir yakni gelarnya, yang lainnya menganggapnya selaku nama julukan. Khidir sudah disamakan dengan St. George, diketahui sebagai “Elia versi Muslim ” dan juga dihubungkan dengan pengembara kekal. Para cendikiawan telah menganggapnya dan mengkarakterkan sosoknya selaku orang suci, nabi, pembimbing nabi yang misterius. Pengertian Al-Khadir (Khidir) secara harfiah mempunyai arti 'Seseorang yang Hijau' melambangkan kesegaran jiwa, warna hijau melambangkan kesegaran akan pengetahuan “berlarut eksklusif dari sumber kehidupan.” Dalam situs Encyclopædia Britannica, dikatakan bahwa Khidir memiliki sudah diberikan sebuah nama, yang paling populer yakni Balya bin Malkan. Asal Usul Menurut Ibnu Abbas, Khidir ialah seorang anak cucu Nabi Adam yang taat beribadah terhadap Allah dan ditundaajalnya. Ibunya berasal dari Romawi sedangkan bapaknya keturunan dari bangsa Parsi. Kemudian mufasir Mahmud al-Alusi menyertakan bahwa ia tidak membenarkan semua pertimbangan perihal riwayat asal ajakan Nabi Khidir, namun An-Nawawi mengatakan bahwa ia ialah seorang putra raja. Pertemuan Nabi Khidir dan Nabi Musa Kisah Musa dan Khadir dituturkan oleh Al-Qur'an dalam Surah Al-Kahf ayat 65-82. Menurut Ibnu Abbas, Ubay bin Ka'ab menceritakan bahawa ia mendengar Nabi Muhammad bersabda: “Sesungguhnya pada suatu hari, Musa berdiri di khalayak Bani Israil lalu dia ditanya, “Siapakah orang yang paling berilmu?” Jawab Nabi Musa, “Aku” Lalu Allah menegur Nabi Musa dengan firman-Nya, “Sesungguhnya di sisi-Ku ada seorang hamba yang berada di konferensi dua lautan dan beliau lebih pandai dibandingkan dengan kamu.” Lantas Musa pun bertanya, “Wahai Tuhanku, dimanakah aku dapat menemuinya?” Allah pun berfirman, “Bawalah bahu-membahu kau seekor ikan di dalam sangkar dan sekiranya ikan tersebut hilang, di situlah kau akan bertemu dengan hamba-Ku itu.” Sesungguhnya teguran Allah itu mencetuskan keinginan yang kuat dalam diri Nabi Musa untuk menemui hamba yang shalih itu.  Di samping itu, Nabi Musa juga ingin sekali mempelajari ilmu dari Hamba Allah tersebut. Musa kemudiannya menunaikan perintah Allah itu dengan menenteng ikan di dalam wadah dan berangkat bahu-membahu pembantunya yang juga ialah murid dan pembantunya, Yusya bin Nun. Mereka berdua akibatnya hingga di sebuah batu dan memutuskan untuk beristirahat sejenak karena telah menempuh perjalanan cukup jauh. Ikan yang mereka bawa di dalam wadah itu tiba-datang meronta-ronta dan berikutnya terjatuh ke dalam air. Allah SWT mengembangkan pedoman air untuk memudahkan ikan hingga ke maritim. Yusya` tertegun memperhatikan kebesaran Allah membangkitkan semula ikan yang sudah mati itu. Selepas menyaksikan insiden yang sangat mengagumkan dan hebat itu, Yusya' tertidur dan dikala terjaga, dia lupa untuk menceritakannya kepada Musa Mereka kemudiannya meneruskan lagi perjalanan siang dan malamnya dan pada keesokan paginya, “ Nabi Musa berkata kepada Yusya` “Bawalah ke mari makanan kita, bergotong-royong kita telah merasa lelah alasannya adalah perjalanan kita ini.” (Surah Al-Kahfi : 62) ” Ibn Abbas berkata, “Nabi Musa bekerjsama tidak merasa lelah sehingga baginda melalui daerah yang ditugaskan oleh Allah biar menemui hamba-Nya yang lebih cendekia itu.” Yusya’ berkata kepada Nabi Musa : “Tahukah guru bahwa ketika kita mencari kawasan berlindung di batu tadi, bergotong-royong saya lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak lain yang membuat saya lupa untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu kembali masuk kedalam maritim itu dengan cara yang amat ajaib.” (Surah Al-Kahfi : 63). Musa segera teringat sesuatu, bahwa mereka sebenarnya telah mendapatkan tempat pertemuan dengan hamba Allah yang sedang dicarinya tersebut. Kini, kedua-dua mereka berbalik arah untuk kembali ke daerah tersebut yakni di kerikil yang menjadi tempat persinggahan mereka sebelumnya, daerah bertemunya dua buah lautan. “ Musa berkata, “Itulah tempat yang kita cari.” Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. (Surah Al-Kahfi : 64) ” Terdapat banyak pertimbangan ihwal daerah konferensi nabi Musa dengan Khidir. Ada yang mengatakan bahawa daerah tersebut yaitu konferensi Laut Romawi dengan Persia yakni daerah bertemunya Laut Merah dengan Samudra Hindia. Pendapat lainnya menyampaikan bahwa lautan tersebut terletak di tempat pertemuan antara Laut Roma dengan Lautan Atlantik. Di samping itu, ada juga yang mengatakan bahwa lautan tersebut terletak di sebuah kawasan yang bernama Ras Muhammad yaitu antara Teluk Suez dengan Teluk Aqabah di Laut Merah. Nabi Musa berguru terhadap Nabi Khidir dengan kriteria Setibanya mereka di kawasan yang dituju, mereka menyaksikan seorang hamba Allah yang berjubah putih higienis. Nabi Musa pun mengucapkan salam kepadanya. Khidir menjawab salamnya dan mengajukan pertanyaan, “Dari mana hadirnya kemakmuran di bumi yang tidak memiliki kemakmuran? Siapakah kau” Jawab Musa, “Aku yakni Musa.” Khidir mengajukan pertanyaan lagi, “Musa dari Bani Isra’il?” Nabi Musa menjawab, “Ya. Aku tiba menemui tuan agar tuan mampu mengajarkan sebagian ilmu dan akal yang telah diajarkan terhadap tuan.” Khidir memastikan, “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan mampu bersabar bersama-samaku.” (Surah Al-Kahfi: 67) “Wahai Musa, bahwasanya ilmu yang kumiliki ini ialah sebahagian daripada ilmu karunia dari Allah yang diajarkan kepadaku tetapi tidak diajarkan kepadamu wahai Musa. Kamu juga mempunyai ilmu yang diajarkan kepadamu yang tidak kuketahuinya.” “ Nabi Musa berkata, “Insya Allah tuan akan mendapati diriku selaku seorang yang tabah dan saya tidak akan menentang tuan dalam sesuatu masalah pun.” (Surah Al-Kahfi : 69) ” “ Dia (Khidir) berikutnya mengingatkan, “Jika kau mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku ihwal sesuatu pun sehingga saya sendiri menerangkannya kepadamu.” (Surah Al-Kahfi : 70) Kisah Perjalanan Nabi Khidir dan Nabi Musa Demikianlah seterusnya Musa mengikuti Khidir dan terjadilah beberapa peristiwa yang menguji diri Musa yang sudah berjanji bahwa baginda tidak akan mengajukan pertanyaan alasannya sesuatu tindakan diambil oleh Nabi Khidir. Setiap tindakan Nabi Khidir itu dianggap abnormal dan membuat Nabi Musa terperanjat. 1. Nabi Khidir merusak bahtera Kejadian yang pertama adalah dikala Nabi Khidir menghancurkan bahtera yang ditumpangi mereka bersama. Nabi Musa tidak kuasa untuk menahan hatinya untuk mengajukan pertanyaan kepada Nabi Khadir. Nabi Khidir memperingatkan kesepakatan Nabi Musa, dan akhirnya Nabi Musa meminta maaf alasannya kalancangannya mengingkari janjinya untuk tidak mengajukan pertanyaan kepada setiap langkah-langkah Nabi Khidir. 2. Nabi Khidir membunuh seorang anak Selanjutnya sehabis mereka sampai di sebuah daratan, Nabi Khidir membunuh seorang anak yang sedang bermain dengan kawan-kawannnya. Peristiwa pembunuhan yang dikerjakan oleh Nabi Khidir tersebut membuat Nabi Musa tak kuasa untuk menanyakan hal tersebut terhadap Nabi Khidir. Nabi Khidir kembali mengingatkan komitmen Nabi Musa, dan beliau diberi peluang terakhir untuk tidak mengajukan pertanyaan-tanya kepada segala sesuatu yang dijalankan oleh Nabi Khidir, jika masih mengajukan pertanyaan lagi maka Nabi Musa harus rela untuk tidak mengikuti perjalanan bareng Nabi Khidir. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan sampai sampai disuatu daerah perumahan. Mereka capek dan hendak meminta santunan terhadap penduduk sekitar. Namun sikap penduduk sekitar tidak dekat dan tidak mau mendapatkan kehadiran mereka, hal ini menciptakan Nabi Musa merasa kesal kepada masyarakatitu.  3. Nabi Khidir memperbaiki dinding rumah yang rusak Setelah dikecewakan oleh penduduk, Nabi Khidir malah memerintahkan Nabi Musa untuk bersama-samanya memperbaiki tembok suatu rumah yang rusak di daerah tersebut. Nabi Musa tidak kuasa kembali untuk mengajukan pertanyaan terhadap sikap Nabi Khadir ini yang menolong memperbaiki tembok rumah setelah masyarakatmenzalimi mereka.  Akhirnya Nabi Khidir menegaskan pada Nabi Musa bahwa dia tidak mampu mendapatkan Nabi Musa untuk menjadi muridnya dan Nabi Musa tidak diperkenankan untuk terus melanjutkan perjalannya bareng dengan Nabi Khidir. Hikmah dari tindakan yang dijalankan Nabi Khidir Selanjutnya Nabi Khidir menjelaskan mengapa dia melakukan hal-hal yang menciptakan Nabi Musa bertanya. Kejadian pertama adalah Nabi Khadir merusak perahu yang mereka tumpangi sebab bahtera itu dimiliki oleh seorang yang miskin dan di tempat itu tinggallah seorang raja yang suka merampas bahtera miliki rakyatnya. Kejadian yang kedua, Nabi Khadir menjelaskan bahwa dia membunuh seorang anak alasannya kedua orang tuanya ialah pasangan yang beriman dan bila anak ini menjadi sampaumur dapat mendorong bapak dan ibunya menjadi orang yang sesat dan kufur. Kematian anak ini digantikan dengan anak yang shalih dan lebih mencintai kedua bapak-ibunya hingga ke anak cucunya. Kejadian yang ketiga (terakhir), Nabi Khadir menjelaskan bahwa rumah yang dinding diperbaiki itu adalah milik dua orang kakak beradik yatim yang tinggal di kota tersebut. Di dalam rumah tersebut tersimpan harta benda yang ditujukan untuk mereka berdua. Ayah kedua abang beradik ini sudah meninggal dunia dan merupakan seorang yang shalih.  Jika tembok rumah tersebut runtuh, maka bisa ditentukan bahwa harta yang tersimpan tersebut akan didapatkan oleh orang-orang di kota itu yang sebagian besar masih menyembah berhala, sedangkan kedua kakak beradik tersebut masih cukup kecil untuk dapat mengelola peninggalan harta ayahnya. Dipercaya tempat tersebut berada di negeri Antakya, Turki. Akhirnya Nabi Musa sadar hikmah dari setiap perbuatan yang sudah dijalankan Nabi Khidir. Akhirya mengerti pula Nabi Musa dan merasa amat bersyukur karena telah dipertemukan oleh Allah dengan seorang hamba Allah yang shalih yang mampu mengajarkan kepadanya ilmu yang tidak dapat dituntut atau dipelajari yaitu ilmu ladunni.  Ilmu ini diberikan oleh Allah SWT kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Nabi Khidir yang bertindak sebagai seorang guru banyak menunjukkan nasihat dan menyampaikan ilmu seperti yang diminta oleh Nabi Musa, dan Nabi Musa mendapatkan pesan tersirat tersebut dengan penuh rasa gembira. Saat mereka di dalam perahu yang ditumpangi, datanglah seekor burung lalu hinggap di ujung perahu itu. Burung itu meneguk air dengan paruhnya, lalu Nabi Khidir berkata, “Ilmuku dan ilmumu tidak berbanding dengan ilmu Allah, Ilmu Allah tidak akan pernah berkurang seperti air bahari ini alasannya adalah diteguk sedikit airnya oleh burung ini.” Sebelum berpisah, nabi Khidir berpesan kepada nabi Musa: “Jadilah kamu seorang yang tersenyum dan bukannya orang yang tertawa. Teruskanlah berdakwah dan janganlah berjalan tanpa tujuan. Janganlah pula apabila kamu melaksanakan kekhilafan, berputus asa dengan kekhilafan yang telah dilaksanakan itu. Menangislah disebabkan kekhilafan yang kamu kerjakan, wahai Ibnu `Imran. Demikian pembahasan singkat ihwal nabi Khidir dan cerita pertemuannya dengan nabi Musa. Semoga ada nasihat dan manfaatnya untuk kita semua. Wallaahu a'lam. Dari aneka macam sumber
Sumber https://dadanby.blogspot.com


EmoticonEmoticon