Tampilkan postingan dengan label dompu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dompu. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 April 2021

Sejarah Pohon Asam Kemerdekaan Atau Mangge Ra’A

Buku Sekitar Kerajaan Dompu

Buku ini menceritakan tentang seluk beluk di daerah Kabupaten Dompu di masa lampau Buku Sekitar Kerajaan Dompu
Buku Sekitar Kerajaan Dompu  



1.  Data Buku

– Judul buku : Sekitar Kerajaan Dompu

– Penulis:  Israil M. Saleh 

– Penyunting : Nurhaidah Asikin

– Penerbit : Buku Litera

– Tahun terbit : 2020 

– Kota terbit : Yogyakarta

– Tebal buku : xxii+388 halaman

2. Sinopsis Buku

Buku ini menceritakan perihal seluk beluk di kawasan Kabupaten Dompu di masa lampau, sepanjang sejarahnya yang dapat dikumpulkan baik dari bukti-bukti yang ada, maupun goresan pena, tutur verbal, legenda dan cerita usang yang dianggap patut diandalkan dan dapat dipakai sebagai bahan masukan. pembahasan sejarah Dompu dari pertama terbentuk, dari tata cara pemerintahan berupa kerajaan, maupun kesultanan. kisah  para raja dan sultan sangaji dana dompu, asal seruan suku dompu sampai berbagai etnis yang tinggal di dompu, budbahasa dan budaya yang tidak pernah lepas dari kehidupan masyarakat seluruhnya dikupas tuntas dalam buku ini

Elemen-komponen yang mengandung nilai-nilai budaya dompu, jikalau sekiranya tidak dirakit kembali pada suatu waktu yang mau datang pasti akan sirna dan hilang ditelan periode

Hasil perakitan ini tentu telah dapat disuguhkan pada semua peminat sejarah dan budaya serta selaku materi masukan buat perbendaharaan nasional bangsa Indonesia.

3. Kelebihan dan Kekurangan

– Kelebihan : buku ini mengupas dalam sejarah sejarah dan budaya kawasan Dompu secara lengkap, dan tuntas, membantu para pembaca mengenang periode kemudian sehingga lebih menyayangi budpekerti dan kebudayaan daerah dompu

– Kekurangan : bahasanya seringkali membingungkan utamanya yang menggunakan ungkapan kawasan jaman dahulu. sehingga pembaca mesti memiliki wawasan lebih perihal bahasa kawasan dompu terdahulu.


Sumber https://www.mooreyi.com/

Selasa, 13 April 2021

Pacoa Jara, Hiburan Dan Kebudayaan Penduduk Dompu

 

 Hiburan dan Kebudayaan Masyarakat Dompu Pacoa Jara, Hiburan dan Kebudayaan Masyarakat Dompu
Pacoa Jara

 

Pacoa Jara

Pacuan kuda demikianlah artinya, merupakan suatu hingar bingar anak negeri dan menjadi hiburan yang paling digemari. Kegemaran ini didorong oleh lingkungan hidupnya sebagai petani dan peternak, sebab keuntungannya untuk mendukung usaha pertanian mirip kerbau untuk membajak sawah dan memuat padi, untuk kendaraan, untuk tunggangan dan juga untuk beban.

Karena itu dulu negeri ini diketahui menciptakan kuda dan kerbau. yang juga diperdagangkan antarpulau mirip ke Pasuruan, Bondowoso Situbondo, Probolinggo dan lain-lain. Sedangkan kerbau untuk dalam negeri ke Palembang, Jambi, Surabaya dan Jakarta, untuk luar negeri ke Hongkong dan Singapura.

Pengangkutan binatang yang diperdagangkan antarpulau dari Dompu dahulu sebelum Pelabuhan Bima dibuat yakni melalui Pelabuhan Soro Kilo di Kecamatan Kilo sekarang, juga lewat Pelabuhan Kempo.

Kegemaran pacuan kuda ini meningkat hingga jadi kegemaran raja-raja atau pembesar-pembesar negeri, maka dengan demikian hiburan yang paling ramai pada masa itu satu-satunya adalah pacuan kuda. Mula-mula pacuan kuda dikerjakan di masing-masing daerah, usang kelamaan dikerjakan secara teroganisir, dengan dibentuknya organisasi pacuan kuda yang bernama Himpunan Pacuan Kuda Dompu, Himpunan Pacuan Kuda Kempo, dan Himpunan Pacuan Kuda Hu'u.

Jadwal Pacoa Jara

Dengan telah dibentuknya himpunan pacuan kuda tersebut, maka diaturlah jadwal pacuan kuda selaku berikut:

1. Diadakan pacuan kuda tingkat kejenelian dengan akseptor kuda yang ada di dalam kejenelian. 

2. Diadakan pacuan kuda tingkat tempat kerajaan, dengan penerima akseptor yang menang di tingkat kejenelian.

3. Diadakan pacuan kuda antara tempat Kerajaan Dompu, Bima, dan Sumbawa, lokasinya bergantian di antara tempat tersebut,

Saat-ketika untuk lomba pacuan kuda yaitu sesudah selesai panen padi dan dikerjakan bertepatan dengan hari-hari besar Islam pada waktu itu.

Tiap pacuan kuda diadakan, kuda yang tercatat ikut berjumlah 200 300 ekor banyaknya dan biasanya dikelompokkan dalam beberapa kelas, contohnya:

  • Kelas C, yakni kuda yang paling tinggi.

  • Kelas B, yakni kuda yang sedang tingginya.
  • Kelas A, yaitu kuda pendek atau kuda tunas namanya.

Seperti dijelaskan di atas, memelihara kuda pacuan bukanlah hal yang mudah. Selain memerlukan biaya pemeliharaan yang banyak, juga mesti memilki tanda-tanda tertentu yang disebut kalisu atau pusaran yang pada umumnya setiap kuda terdapat berlainan.

Jenis-jenis kalisu (pusaran) pada kuda

Jenis-jenis kalisu (pusaran) pada kuda, adalah:

1. Kalisu panta paju (tancap payung), terletak pada bagian: Punggung bab belakang (kamoto). Punggung bagian wajah (paratama).

2. Kalisu wole (pasak), terletak pada bab kiri-kanan ketiak kaki paras . 

3. Kalisu colokomba, terletak pada bagian kiri-kanan pangkal pendengaran bab belakang.

4. Kalisu mbuda ade (buta hati), terletak pada bagian dahi (tantangga). 

Di antara jenis kalisu seperti dijelaskan di atas, maka yang pantang bagi seekor kuda pacuan maupun kuda tunggang (jara sadonda), adalah bila mempunyai:

a. Kalisu wole: kuda semacam ini memiliki sifat suka meronta-ronta dan membahayakan bagi joki, lagi pula tidak begitu kuat.

b. Kalisu colokomba: kuda seperti ini mempunyai sifat: Apabila letaknya berpapasan, tabiatnya baik. Apabila tidak berpapasan letaknya, tabiatnya tidak baik, disebut kabeu (males) dan kalau berlari suka maju mundur.

c. Kalisu mbuda ade: kuda seperti ini mempunyai sifat: Apabila letaknya di bab atas matanya, tabiatnya baik. Apabila letaknya di bab bawah matanya, tabiatnya tidak baik.

Jenis warna bulu kuda

Jenis warna bulu kuda pun menjadi pilihan yang serius juga bagi para penggemar kuda, misalnya bulu hitam, karonde, cimbi, dan karaba, serta yang paling baik berbulu warna mbera bermata hitam, alat kelaminnya hitam dan kuku kakinya berwarna hitam pula.

Selain pantangan sebab kuda memiliki gejala atau kalisu yang tidak baik, maka adapula pantangan yang dikaitkan dengan sifat sifat pemilik kuda tersebut, bahkan merupakan semacam keyakinan adanya yang dihubungkan dengan slogan dou Dompu dalam kehidupan yang menyampaikan, bahwa hidup yang tepat itu yakni jika didukung oleh empat bagian, yakni:

1. Wei taho (istri yang bagus).

2. Uma taho (rumah yang baik).

3. Besi taho (senjata yang bagus).

4. Jara taho (kuda yang bagus).

Di satu segi, yang dimaksud dengan kuda yang bagus adalah kuda yang memiliki persenyawaan (rohani) yang cocok, cocok, dan searah dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh pemiliknya.

Percaya atau tidak, hal yang demikian itu mampu dibuktikan dengan kenyataan, yaitu:

a. Apabila seseorang telah memiliki seekor kuda, kehidupan rumah tangganya aman sejahtera, rezekinya bertambah. Itu membuktikan memiliki Jara taho.

b. Apabila seseorang dahulu-dulunya hidup rumah tangganya baik, kondusif tentram dan senang, akan tetapi sehabis mempunyai kuda, keadaan menjadi sebaliknya, sering berbantah-bantah dengan istri.  tetangga, dan rezekinya makin menurun, itu ialah membuktikan dia mempunyai kuda yang tidak baik.

Jika seekor kuda yang menjadi peliharaan sering meringkik di tengah malam dengan suaranya yang menyeramkan, maka kuda semacam itu sangatlah terlarang untuk dipelihara.

 Kuda yang mempunyai gejala yang baik serta memiliki persenyawaan dengan pemiliknya, maka begitu mahal.



sumber :

Israil M. Saleh, Sekitar Kerajaan Dompu,2020, buku litera, Yogyakarta h.  . . . . .313


Sumber https://www.mooreyi.com/

Rabu, 07 April 2021

Daftar Nama Raja-Raja Kerajaan Dompu

SEBELUM terbentuknya Kerajaan atau Kesultanan Daftar Nama Raja-Raja Kerajaan Dompu
DOMPU

SEBELUM terbentuknya Kerajaan atau Kesultanan, di Dompu konon terdapat beberapa golongan penduduk dengan di Pimpin oleh seorang Kepala Suku atau yang lebih di kenal dengan sebutan Ncuhi (Raja Kecil) yang berkuasa penuh dan menempati beberapa wilayah atau tempat yang ada di Dompu.

 Dalam lembaran Sejarah di Dompu mencatat, sebelum terbentuknya kerajaan konon didaerah ini berkuasa beberapa kepala suku yang disebut selaku "NCUHI" atau Raja Kecil, para ncuhi tersebut berisikan 4 orang yakni Ncuhi Hu.u yang berkuasa diwilayah kekuasaan kawasan Huu (Sekarang kecamatan Hu'u Dompu),

kemudian Ncuhi Saneo yang berkuasa didaerah Saneo dan sekitarnya (sekarang masuk dalam wilayah Kecamatan woja Dompu), selanjutnya Ncuhi Nowa dan berkuasa didaerah Nowa dan sekitarnya serta Ncuhi Tonda berkuasa diwilayah kekuasaannya yaitu di sekitar Tonda dan ketika ini masuk dalam wilayah Desa Riwoa kecamatan woja Dompu.

Selain 4 orang Ncuhi yang terkenal di Dompu ialah Ncuhi Nowa,Ncuhi Hu'u, Ncuhi Saneo dan Ncuhi Tonda, terdapat pula beberapa Ncuhi Iainya mirip Ncuhi Tolofo'o, Ncuhi Katua,Ncuhi Doro Ngao,Ncuhi Parapimpi dan Ncuhi Dungga. Menurut Tulisan H.M.Israil (Sekitar Kerajaan Dompu) disebutkan bahwa, mereka yang disebut Ncuhi itu sehari-hari umumpula disebut dengan panggilan OMPU, hampir mirip dengan istilah di tanah Jawa yakni 'MPU' (Empu).

 Para Ncuhi menguasai satu daerah dengan orangnya (Rakyat), beberapa bekas pemukiman usang atau perkampungan yang di kuasai oleh para Ncuhi sampai dikala ini nama perkampungan tersebut masih menempel bahkan menjadi salah satu nama Desa atau Kecamatan di Kabupaten Dompu. Beberapa perkampungan atau negeri yang pernah menjadi wilayah kekuasaan para Ncuhi tersebut misalnya Negeri Tonda, Negeri Soro Bawah letaknya di Doro La Nggaja di tepi pantai teluk cempi Hu'u. Negeri Bata letaknya di Doro Bata Kelurahan Kandai I, Negeri Tolofo'o, letaknya di sebelah utara Raba Baka Desa Matua Kecamatan Woja, Negeri Parasada, sekarang ialah lokasi persawahan So Mangge kalo di Kampung Pelita Kelurahan Bada.

Negeri La Rade, lokasi tersebut berada diwilayah areal pertanian So Jero, Negeri Dungga, terletak disekitar Dam Rahalayu. Lokasi tersebut pernah didapatkan situs kuburan Islam antik. Makam atau kuburan tersebut oleh warga Dompu diberi nama kuburan (Rade/kuburan Karama Dungga). Disekitar kuburan konon pernah ditemukan oleh masyarakatsekitar berbentukbarang-barang peninggalan tempo dahulu berupa keris, atau senjata khas Tiongkok. Negeri Doro Ngao, letaknya di kelurahan Kandai I Dompu. Di Doro Ngao atau tepatnya di salah satu bukit terdapat kuburan tua adalah milik Manuru Doro Ngao . Masih di sekitar Doro Ngao terdapat pula situs negeri Parapimpi.

Di Kecamatan Hu'u konon paling banyak didapatkan bekas pemukiman atau negeri negeri antik yang sudah punah mirip Negeri Teri di Desa hu'u letaknya benda di sekitar perbatasan antara Dompu-Bima. Negeri Puma di desa Hu'u. Negeri Hu'u pertama kali berlokasi di sebelah timur Desa Daha atau di erat Telaga Sima dan Roa Rumu. Kemudian ada pula Negeri Rodi di desa Daha. Negeri Rumu dan Soko di Desa Adu serta Negeri Temba di Ranggo, Negeri Ale di desa Jambu Kecamatan Pajo Dompu.     

Didalam perjalanan kehidupan para Ncuhi di Dompu, lalu para Ncuhi tersebut mempersatukan diri dan terbentuklah satu kesatuan dalam kalangan Yang hasilnya berubah menjadi menjadi daerah Kerajaan DOMPO (Dompu). Kerajaan DOMPO merupakan hasil penyatuan atau bersatunya para Ncuhi-Ncuhi yang ada diwilayah Dompu dikala itu. Di Dompu konon berkembang kisah bahwa nenek moyang Leluhur masyarakat Dompu berasal dati satu negeri nun jauh di Sana, bahkan salah seorang tokoh budayawan di Dompu HM. Israil dalam (Sekitar Kerajaan Dompu) menyebutkan bahwa asal muasal nenek moyang warga Dompu ini dari negeri antah berantah.   

Kisah tersebut berawal dari tutur dongeng perihal ungkapan-“SANGAJI”. Sebelum Kesultanan Dompu terbentuk, Dompu saat itu tata cara pemerintahan berbentuk Kerajaan dan di pimpin oleh seorang Raja (Sangaji). Disebutkan susunan Raja-raja yang pernah berkuasa di Kerajaan DOMPU :

1. Dewa Sang Kula 
Konon Raja ini berasal dari negeri di tanah seberang, tokoh ini datang ke Dompu lewat laut tepatnya di kawasan teluk cempi (Hu'u) menggunakan bahtera yang terbuat dari bambu betung yang masih muda dan mendarat di pantai Riang Ria (Pantai Ria di Riwo Woja). Selanjutnya Sang tokoh tersebut hasilnya berdomisili di wilayah Riwo. Atas komitmen para Ncuhi yang ada di Dana (Tanah) Dompu saat itu, Sang tokoh yang berasal dari negeri seberang tersebut lantas diangkat menjadi seorang Raja pertama kali di Dana Dompu

2. Dewa Tulang Bawang 
Tokoh ini oleh masyarakat Dompu menurut tutur dari para sesepuh yang ada disebutkan bahwa Dewa Tulang Bawang ini konon berasal dari Negeri Tulang Bawang (Sumatera) tepatnya berasal dari bukit Siguntang. Dewa Tulang Bawang mengembara hingga sampai di Negeri Dompu. Menurut kisah rakyat Dompu, tokoh ini datang ke Dana Dompu menggunakan perahu dan terhempas gelombang dahsyat sehingga perahu tersebut terdampar dan menjelma sebongkah watu. Oleh penduduk Dompu batu tersebut di kenal dengan perumpamaan WADU LOPI. Dewa Tulang Bawang lalu kawin dengan seorang putri anak dari Sang Kula Indra Kumala dan selanjutnya diangkat menjadi Raja Dompu ke Dua.

3. Dewa Indra Dompu
Dewa Indera Dompu ini ialah Putra dari dewa Tulang Bawang

4. Dewa Mambara Bisu
Dewa mambara bisu yaitu saudara dari Dewa Indera Dompu

5. Dewa Mambara Balada
Dewa Mambara Balada ini juga kerabat kandung dari Dewa Indra Dompu.

6. Dewa Kuda (Dewa yang punya Kuda)
Dewa Kuda merupakan putra dari Dewa Mambara Balada.

7. Dewa Mawaa Taho

Dewa Mawaa Taho ini ialah putra dari Dewa Kuda, dan dimasa pemerintahannya ini sekitar tahun 1340 terjadilah Ekspedisi Laskar dari Kerajaan Majapahit untuk menaklukkan DOMPO. Dalam satu riwayat, Majapahit dikala itu dipimpin oleh Panglima perangnya ialah Panglima NALA dan di Bantu dari pasukan Kerajaan Bali yang dipimpin oleh panglima perangnya bernama Panglima PASUNG GRIGIS, tetapi dikala Kerajaan Dompu belum dapat di taklukan oleh Majapahit. Konon cerita, sisa - sisa laskar Majapahit banyak yang tidak kembali ke negerinya ada akibatnya menetap di Dompo tepatnya disekitar daerah teluk Cempi Hu'u8. Dewa DadalanataDimasa Raja Dewa Mawa'a Taho terjadi pula ekspedisi laskar Majapahit untuk menaklukan Dompu. laskar Majapahit dalam ekspedisinya yang ke dua sekitar tahun 1357 di bawah pimpinan panglima SOKO dan Panglima Dadalanata serta di Bantu laskar dari Kerajaan Bali. Raja Dompu saat itu yakni Dewa Mawaa Taho hasilnya membuat komitmen kepada Panglima Soko untuk melakukan perang tanding tanpa melibatkan laskar dan rakyat agar tidak terjadi korban banyak. Perang tanding di gelar, dan alhasil Dompo saat itu harus takluk kepada Majapahit. atas kesepakatan antara Raja Dompu Dewa Mawaa Taho dan Panglima Soka kesannya laskar Majapahit yang paling tangguh yakni Dadalanata diangkat jadi Raja Dompu menggantikan Dadalanata. Raja Dompo Dewa Dadalanata ialah Raja terakhir di Dompu sebelum berubah tata cara pemerintahan menjadi Kesultanan







HM Agus Suryanto, & Kisman pengeran, 2006, Napas tilas leluhur, pemerintah kabupaten Dompu.xxxx
Sumber https://www.mooreyi.com/

Selasa, 06 April 2021

Daftar Nama Sultan Kesultanan Dompu

Susunan para Sultan Sultan  yang memerintah Dompu  Daftar Nama Sultan Kesultanan Dompu

Susunan para Sultan Sultan  yang memerintah Dompu (1545-1958)
Di tengah perjalanan sejarah di Dana Dompu, tampaknya masyarakat Dompu terus berbenah diri seiring dengan kemajuan zaman ketika itu. Dari sistim pemerintahan Kerajaan (Raja) lalu berkembang menjadi metode pemerintahan Kesultanan (Sultan). Disinilah asal usul masyarakat Dompu mulai pertama kali mengenal Islam.

1.Sultan Syamsuddin. La Bata Na'E (1545...?)
         SULTAN SYAMSUDDIN yang punya nama asli 'LA BATA NA’E’ ini yaitu putra dari Dewa Mawa'a Taho (Raja Dompu yang ke-7). Sekitar tahun 1545, La Bata Na'E memeluk İslam dan sekaligus diangkat menjadi Sultan Dompu yang pertama. Sultan Syamsuddin merupakan Sultan Dompu pertama yang diketahui selaku Sultan yang cerdik dan bijaksana, dia memerintah dengan tegas dan sarat perhatian kepada rakyatnya. Sultan Syamsuddin di beri gelar MAWA'A TUNGGU. Di zaman pemerintahan Sultan Syamsuddin dia juga mendirikan Masjid yang pertama kali di Dompu, lokasi Masjid yang konon terbuat dari konstruksi kayu jati berlantaikan Wadu Dimpa ukuran sekitar 40 Cm dan beratap susun tiga itu lokasinya berada di Kampung sigi (Sekarang lokasi tersebut sudah berubah menjadi Kantor Kelurahan Karijawa). Dimasa pemerintahan Sultan Syamsuddin, Dompu banyak di datangi para Ulama dan saudagar İslam yang datang dari Negeri seberang selain untuk berjualan mereka juga berdakwah agama İslam. Seperti misalnya, Syekh Hasanuddin, Syekh Abdul Salam, Syekh Magribi dan masih banyak lagi ulama-ulama beken lainya zaman itu. Sebelum mendirikan Istana Bata (Doro Bata),Sultan Syamsuddin pernah memerintah di Istana Tonda.

2.Sultan Jamaluddin. Manuru Doro Ngao.(...?-1640)
          Sultan Dompu Bertahta di Doro Ngao (Kandai 1).

3. sultan Sirajuddin. Manuru Bata (1640-1682)
         SULTAN SIRADJUDDIN putra dari Sultan Syamsuddin, di nobatkan selaku Sultan Dompu sebelum memasuki usia Dewasa, dan untuk sementara pemerintahan saat itu dipercayakan kepada pamannya yaitu Sultan Jamaluddin, dan dia berdomisili di Makassar. Baru sehabis cukup umur ia kembali untuk menggantikan pemerintahan dari tangan pamanya akan tetapi sang paman sepertinya enggan untuk menyerahkan kekuasaan tersebut kepada keponakannya itu. Akhirnya kudeta terjadi dengan kekerasan, dengan perlindungan pihak Kompeni (VOC). Tahun 1669 menanda tangani persetujuanpolitik dengan kompeni di Benteng Rotterdam Makassar.

4. Sultan Akhmad. Manuru kilo (1682-1686)
          Beliau meninggal sebab di bunuh rakyat yang tidak mau tunduk terhadap Kompeni. Sekembalinya dari Batavia di beri gelar Manuru Kilo sebab meninggal di daerah Labuhan Kilo.

5. Sultan Abdul Rasul l. Manuru LaJu (1686-1701)
         di nobatkan menjadi Sultan Dompu pada tahun 1686. Sultan Abdul Rasul dikenal selaku Sultan Dompu yang cukup cerdas terpelajar dan bijaksana. Segala masalah selalu dijalankan dengan musyawarah dengan para Pemimpin (Rato-Rato) selaku Menteri. Ibunda Sultan Abdul Rasul I ini ialah anak dari Raja Manggarai. 

6.SuItan Usman. Manuru Goa (1701-1702)
     BELIAU yakni Putra Sultan Abdul Rasul, memerintah tidak usang alasannya meninggal di Makassar, selanjutnya di beri gelar Manuru Goa.

7. Sultan Akhmad Syah. Manuru Kempo I (1702-1717)
PUTRA dari Sultan Abdul Rasul I. Meninggal di kempo setelah pulang dari Makasar. Selanjutnya di beri gelar Manuru Kempo I.

8.  Sultan Abdul Kadir. Mawa'a Alus (1717-1727)
Setelah meninggal di beri gelar Sultan ma wa’a Alus

9. Sultan Syamsuddin II. Mawa'a Sampela (1727-1737)
SULTAN Syamsuddin adalah putra Sultan Usman, Ibunya anak dari raja  Sumbawa. Diangkat menjadi Sultan Dompu dikala usia muda, hingga akhir wafatnya dia konon tidak menikah ,lalu di beri gelar Sultan Mawa'a Sampela.

10.Sultan Kamaluddin.(1737)
PUTRA dari Sultan Usman, tahun 1737 lari ke Sumbawa meninggalkan Tahta Dan kawin di Sumbawa. Sultan Kamaluddin lebih menentukan cinta dari pada Tahta.

11.Sultan Abdul Kahar. Manuru Hi'di (1737-1746)
   Sultan Abdul Kahar pernah berperang melawan Raja Bone dan pernah mendapat hasil rampasan perang berbentukSenjata Sakti, di Dompu senjata tersebut dinamakan 'BALABA' dan terdapat pula  tawanan perang Untuk kawasan tinggal atau pemukiman para tawanan perang ini, Sultan Abdul Kahar membuka pemukiman baru di Dompu yang sampai saat ini dikenal  dengan nama-nama yang ada di Sulawesi seperti Bada, Kandai (dari asal kata Kendari), Bugis, Mantro (asal kata dari Maros) dan Bali. Beliau di beri gelar Mawa'a Hi'di.

12.SuItan Abdurahman. Manuru Kempo Il (1746-1748)
BELIAU meninggal dunia di kempo kemudian di beri gelar Manuru kempo.

13.Sultan Abdul Wahab. Mawa'a Ca'u.(1749-1792)
PUTRA Sultan Abdurahman ini pernah memimpin pertempuran dengan Sultan Sumbawa yang menenteng kekalahan besar bagi Sultan Sumbawa. Kemudian dibuatlah perjanjian damai. Plampang dan Empang akibatnya diserahkan terhadap Sultan Dompu sampai batas Nisa Dompu dan terdapat barang-barang rampasan berupa sebuah Tambur yang diberi nama Lawata Kampo alasannya nyaring sekali bunyinya. Beliau diberi gelar Mawa'a Ca'u. Karena kemenangannya itulah maka Beliau diangkat sebagai Admiral Jenderal. Ibunda Sultan Abdul wahab ini konon merupakan keturunan dari Ncuhi Tonda.

14.Sultan Abdullah. Mawa'a Saninu (1793-1798)
      BELIAU adalah putera Sultan Abdurahman. Beliau bergelar " MAWAASANINU "( Senang bersolek). Beliau wafat tahun 1799.

15.Sultan Yakub. Negeri Mpuri (1798-1799)
BELIAU diasingkan di Mpuri Bima karena menderita sakit. Namun sumber lain menyebutkan bahwa, saat Sultan Yakub berkuasa, terjadilah pergolakan atau perebutan kekuasaan antara Sultan Yakub dengan adik tirinya. Sultan Yakub berhasil di asingkan ke Mpuri sampai final hayatnya, sementara Kesultanan Dompu sukses dikuasai oleh adik tiri nya. Karena menetap dan wafat di Negeri Mpuri (negeri Pengasingan) Akhirnya Sultan Yakub diberi gelar Sultan Yakub negeri mpuri.

16.Sultan Abdullah Tajul Arifin l. Mawa'a Bou (1799-1801)
     BELIAU ialah putera Sultan Abdul Wahab dan di kala pemerintahannya banyak terjadi ketidak stabilan, mengerjakan pemerintahan atas kekuasaan, tidak mampu disanggah kehendaknya.

17.Sultan Abdul Rasul II. Manuru Bata (1801-1857)
PUTRA Sultan Abdul Wahab, Beliau yakni saudara Sultan Muhamad Tajul Arifin I, dimasa pemerintahannya dia memindahkan Istana dari Bata Ntoi ( kandai I ) ke Bata Bou, ialah lokasi mesjid Raya Dompu kini . Beliau dikuburkan dibata dan diberi gelar ” MANURU BATA ”

18.Sultan Muhammad Salahuddin. Mawa'a Adi (1857-1870)
BELIAU yaitu putera Sultan Abdul Rasul II. Dimasa pemerintahannya ia mengerjakan Hukum Agama sebagai aturan Pemerintahan . dengan demikian ia diberi gelar ” MAWA-A ADI ” atau yang membawa keadilan.

19.Sultan Abdullah II. Mambora Bara ncihi Ncawa.(1871-1882)
    Beliau yaitu putera Sultan Salahuddin dan memerintah tidak terlampau lama, meninggal dunia sebab sakit, dengan demikian dia diberi gelar  Mambora Bara Ncihi Ncawa (ma Hidi Mbojo). Diangkat menjadi Sultan Dompu tanggal 03 Juni 1871. Meninggal dunia 25 Februari tahun 1882.

20.Sultan Muhammad Sirajuddin . Manuru Kupa.(1882-1934)
   BELIAU yaitu putera Sultan Abdullah, dalam abad Pemeritahannya dia di asingkan oleh Belanda di Kupang NTT tahun 1934 alasannya tak ingintunduk kepada pemerintah kolonial Belanda. Tahun 1937 Beliau wafat dan dimakamkan di pemakaman muslim Batu Kadera Kupang. Bulan Januari tahun 2002, kerangka Jenazah almarhum yang sudah 65 tahun bersemayam di Kupang, karenanya mampu kembali di boyong ke Dompu Oleh Bupati Dompu H.Abubakar Ahmad,SH. Sultan Muhammad Sirajuddin yang bergelar MANURU KUPA (Sultan yang wafat di Kupang) itu akibatnya dimakamkan kembali di Komplek makam Raja/Sultan Dompu tepatnya di Komplek Masjid Agung Baiturahman Dompu pada tanggal 22 Januari tahun 2002.

21.Sultan Muhammad Taju Arifin Sirajuddin.  (1947-1958)
       BELIAU yakni putera Raja Muda Abdul Wahab, cucu dari Sultan Muhammad Sirajuddin, dinobatkan menjadi Sultan Dompu pada tahun 1947 berdasarkan SK.Residen timur Nomor.la tanggal 12 September tahun 1947, sebab Kerajaan Dompu sudah dikembalikan statusnya.
        meninggal dunia pada tanggal 12 September Tahun 1964 dan bergelar 'MAWA-A SAPAHU' (Beliau juga merupakan Bupati Dompu Pertama) sehabis status daerah Dompu dirubah kawasan Swapraja menjadi Daerah Swatantra Tingkat Il Dompu.
Melihat beberapa urutan Raja/Sultan yang pernah memerintah di wilayah Dana Dompu ini maka dapat disimpulkan bahwa, Dompu pernah diperintah oleh 30 orang Raja dan Sultan terdiri dari 9 Orang Raja (Zaman Kerajaan) dan 21 Orang Sultan (Zaman Kesultanan).
_______________________"
Sumber
HM Agus Suryanto, & Kisman pengeran, 2006, Napas tilas leluhur, pemerintah kabupaten Dompu.

Sumber https://www.mooreyi.com/

Penetapan Hari Jadi Dompu

sebuah proses panjang" border="0" data-original-height="220" data-original-width="212" src="https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEidWQByWW5teEJNvWhklo9ksIP3-9jYevNbqOaJ-XMp-hBB57QGtv1HJr5ZXeitTj1f9WM6_Fu1R4Ki3xvihXUKdq-geohbHu8ozOyNUKdMie7IqB2vCn2RoRjylmva3yZ3pNjvvkEZsVWD/s16000/download+%25282%2529.jpeg" title="Penetapan Hari Jadi Dompu

Senin, 05 April 2021

Hiburan Dan Kebudayaan Masyarakat Dompu, Karai Jara

Pacoa jara





Israil M. Saleh,2020, Sekitar Kerajaan Dompu, buku litera, Yogyakarta h.  . . . . .312


Sumber https://www.mooreyi.com/

Minggu, 04 April 2021

Kebudayaan Hiburan Lao Nggalo Masyarakat Dompu


Kebudayaan Hiburan Lao Nggalo Masyarakat Dompu Kebudayaan Hiburan Lao Nggalo Masyarakat Dompu
Berburu src: Wikipedia


Menangkap hewan liar seperti babi, rusa, kerbau liar, dan kambing liar, itulah yang disebut nggalo. Kegiatan ini tergolong salah satu yang menjadi hiburan baik bagi rakyat maupun raja. Kegiatan nggalo ini berisikan:

- Nggalo ndai, adalah mencari hewan liar yang dijalankan secara individual atau sekelompok kecil orang di tempat biasa yang tidak terlarang

- Nggalo ndiha, yaitu mencari binatang liar yang dijalankan oleh raja bareng pembesar-pembesar negeri dengan rakyatnya, sebagai salah satu kesenangan dan rekreasi dari raja dan pembesar-pembesar negeri lainnya pada masa itu.

Tempat-tempat untuk raja melakukan kegiatan nggalo ndiha itu yakni tertentu pula dan kawasan itu biasanya disebut Ruhu Ruma atau kawasan raja berburu dan tersebutlah di sini beberapa daerah, mirip:

1. Ranggo, di ujung utara so Ranggo-Doro Ruhu-sebelah selatan jalan menuju Jambu.

2. Tonda, di wajah Potu ra Mata-Lampalisu.

3. Kempo, di sebelah barat Kampung Soro yang disebut Doro Kola. 

Di tempat-tempat ini, pada jangkauan tertentu, rakyat tidak diperbolehkan masuk ke dalamnya untuk melaksanakan aktivitas nggalo karna dikhususkan keperluan nggalo ndiha bagi raja. Adapun caranya nggalo ndiha dijalankan, seluruh rakyat yang berada di dekat kawasan itu diberitahukan akan ada dilaksanakan nggalo ndiha. Pada hari yang telah ditentukan, seluruh rakyat bau tanah muda naik ke gunung dalam jarak yang jauh hingga-hingga puluhan kilometer, membawa anjing, tombak, dan lain-lain untuk menghalau menjangan, sedangkan raja beserta pembesar-pembesar negeri lainnya telah menunggu dan siap menanti di Ruhu Ruma, di tempat yang sudah dibangun sebelumnya, namanya Sanggopa.

Orang banyak mengusir menjangan dari gunung agar turun ke bawah, lalu lari terbirit-birit di hadapan raja dan pembesar pembesar negeri diburudengan anjing dan manusia dengan tombak. Raja dan pembesar-pembesar negeri lain sudah siap dengan senapan yang siap ditembakkan.

Rakyat pun menganggap yang demikian ialah kesenangan bersama antara raja dengan mereka, sedangkan untuk mereka yang ingin menunjukkan kecekatan serta ketangkasan di hadapan raja, menjangan dikejar dan ditangkap hidup-hidup, diusung dan dielu-elukan di hadapan raja dipuji dan disanjunglah ia oleh raja dan untuk potensi -kesempatan berikutnya orang demikian mesti selalu diikutkan.

Menurut umumnya nggalo ndiha ini, maka berpuluh bahkan beratus ekor menjangan mampu ditangkap yang hasilnya seperlunya saja dibawa ke istana untuk raja dan permaisuri, selebihnya dibagikan kepada pembesar-pembesar negeri yang lain juga terhadap rakyat sekalian.

Dalam program ini permaisuri dan putra putri raja ikutlah dibawa serta.

Dikejar oleh anjing bareng orang berkepanjangan dan berjauh jauhan di padang yang luas atau di sawah, itulah panorama yang mengasikkan bagi raja. Apalagi kalau nggalo ndiha itu dijalankan di Ruhu Kuma-Tonda atau di Soro-Kempo, di mana menjangan akan lari masuk ke dalam bahari, diburudengan sampan, dikejar oleh anjing dan oleh orang yang punya kemahiran berenang, hal ini memiliki keasikan tersendiri pula.

Nggalo menurut pemahaman yang bahu-membahu yaitu menangkap hewan liar dengan memakai anjing. Namun dalam pelaksanaannya dipakai juga peralatan sebagai berikut:

1. Puka dan katotu untuk babi.

2. Sarente atau jerat untuk menjangan, kuda dan kerbau liar.

3. Bento mpou kai jara.

Untuk meraih kesuksesan dalam mempergunakan berbagai jenis alat ini, orang harus memiliki ketrampilan dan pengetahuan tertentu mengenai memelihara anjing berburu dan menciptakan alat-alatnya.

Cara memelihara anjing untuk berburu: 

1. Anjing berburu selalu diberi makan nasi dengan cara nasinya dikepalkan (digumpalkan), kemudian dilontarkan ke arah anjing biar mampu ditangkap dengan mulutnya. Bila diberi makan daging, yang senantiasa diutamakan untuk diberi yaitu daging kerongkongan dan paru-paru. Caranya juga mirip nasi tadi, yakni dilontarkan dengan tujuan untuk mengajarkan kecekatan dan ketangkasan.

2. Bentuk tubuh dan warna bulu anjing menjadi opsi, yakni bentuk badannya yang tinggi semampai dengan kaki belakangnya tegak lurus. Itulah ciri anjing yang cekatan. Sedangkan warna bulu yang menjadi pilihan yaitu yang hitam dan coklat di bawah perutnya yang dinamakan Loko Linta, itulah yang dianggap anjing penurut, cekat dan tangkas.

3. Setelah menjelang dewasa, mulailah diajarkan dibawa ke gunung, di daerah yang dekat dahulu untuk dicoba, adakalanya dengan melemparkan batu sejauh lemparan, agar mampu dipungut dan dikirimkan ke tuannya, dengan ini diajarkan pengenalan medan maupun sasaran

4. Dengan hasil latihan yang bersungguh-sungguh, ada anjing yang dimiliki oleh seseorang yang sungguh patuh atas perintah tuannya. Misalnya suatu dikala tuannya menginginkan agar mencarikan menjangan yang tanduknya telah berkembang sempurna, yang diberi perumpamaan ntasa wanga, maka menjangan inilah yang dikejar oleh anjing itu.

Dalam memelihara anjing ada kekerabatan kejiwaan antara anjing peliharaan dengan pemiliknya alasannya adanya kedekatan.

1. Nggalo Kai Puka atau Katotu

Ini khusus untuk babi. Puka yaitu semacam alat yang dibuat dari tali atau kulit kerbau, semacam jala bermata besar yang gampang dikerutkan kalau mengenai mangsanya, dibuat berpintu satu. Apabila babi masuk ke dalamnya maka tiadalah kemungkinan untuk melepaskan diri lagi sebab puka tersebut akan berkerut dan akan tertutup dengan sendirinya.

Katotu pun demikian pula halnya alasannya adalah dibuat dalam bentuk lancip ujung belakangnya, dibuat dari bambu bundar atau kayu dan dipasang di tempat-kawasan yang miring letaknya, karena sehabis babi masuk eksklusif meluncur ke bawah tanpa bisa berbalik lagi.

Tempat yang paling baik untuk memasang alat-alat semacam ini ialah yang paling sering dilalui oleh babi setiap harinya, ini disebut riwa.

2. Nggalo Kai Parangga

Perangkap itulah artinya, umumnya dibentuk di dalam sungai yang bertebing curam, ditutuplah sungai di atas dan di bawahnya dengan pagar kayu yang kuat dan tinggi. Bila menjangan digiring masuk ke dalamnya, maka sukarlah untuk melepaskan diri kembali. Biasanya yang dipakai yaitu sungai yang tidak lembap (sungai kering).

Parangga ini lazimnya dipimpin oleh seorang yang disebut punggawa atau panggita, karena untuk membuat parangga haruslah ada tata aturannya yang dinamakan uku ra lipa.

Punggawa atau panggita yang membuat parangga itu dianggap sebagai spesialis, yang apabila menciptakan parangga itu khusus menjangan maka dipakailah lipa made, maksudnya segala binatang yang masuk ke dalam parangga tiadalah impian untuk hidup. Lain pula cara membuat parangga untuk menangkap kerbau liar, kuda liar, yang tujuannya untuk dijinakkan dan dipelihara, maka ukuran yang dipakai yakni lipa mori.

Banyak lucu namun ada benarnya, semacam lagi biasanya antara punggawa yang satu dengan punggawa yang lainnya saling bersaing dalam memperlihatkan kemahiran dan kesaktiannya masing-masing dalam menciptakan parangga semoga mendapatkan hasil yang banyak.

Dalam kompetisi ini ada pula semacam gaib, pantangan bagi menjangan yang menurut mereka ialah bila ditanamkan kulit siput di pintu masuk parangga, maka seekor pun menjangan tiadalah berani masuk ke dalam parangga, walau dihalau bagaimanapun menjangan itu akan kembali lari, kadang-kadang orang yang menghalaunya dilanggarnya. Rupanya sang menjangan sangat setia pada sumpahnya yang menurut ceritanya telah mengalah kalah tanpa syarat pada sang siput dikala diadakan lomba lari yang dimenangkan oleh siput dengan segala tipu muslihatnya, yang ceritanya akan diliput pada potensi berikutnya.

Cara menggiring menjangan masuk ke dalam parangga yakni semula pada sore harinya direntangkanlah lamba, adalah tali yang dibentuk dari daun enau, laju namanya di Dompu disambung hingga lima atau sepuluh kilometer panjangnya direntangkan setinggi tubuh dalam bentuk sisi empat atau lingkaran telur tergantung pada suasana medan yang ujungnya nanti, akan berjumpa dan diikatkan pada kedua belah pintu parangga.

Satu hal yang ajaib namun benar pula, lamba yang lebarnya sekitar 2 cm itu tidaklah berani dilanggar oleh menjangan. Kalau pun hal ini terpaksa terjadi dan ini cuma disebabkan sesuatu yang terjadi adanya pantangan yang disimpan orang di pintu parangga, maka menjangan itu akan menemui nasib malang, di dalam dagingnya akan berkembang atau terjadi semacam gumpalan air yang usang kelamaan akan berproses menjadi semacam tepung putih yang keras, dan akan meranalah hidupnya, orang menamakan putu oi.

Setelahnya lamba simpulan direntangkan, maka sekitar jam 3 malam mulailah punggawa beserta seluruh anggotanya menghalau menjangan yang ada di dalam bulat lamba tadi digiring untuk masuk ke dalam parangga. Ini disebut Bali atau Baka dan berlarianlah menjangan itu menuju muara parangga dan masuklah menerima nasibnya, besar kecil tidaklah terkecuali. Bila untung baik maka jumlah menjangan yang masuk terbilang puluhan bahkan ratusan banyaknya.

Suatu hal yang lucu pula adanya yakni kalau yakni belum dewasa menjangan yang kecil yang dianggap belum pantas disembelih, ingin dilepas atau ditangkap dengan tujuan untuk dipelihara tidaklah dapat hidup. Syukarlah dianalisa alasannya adalah-alasannya adalah yang demikian ini bisa terjadi, apakah alasannya lelah dan capai balasan digiring dari daerah yang jauh lalu masuk ke dalam parangga dengan berdesak-desakan, membuat keadaan badannya berubah, ketahanan tubuhnya hilang namun cacat tubuh tiada tampak. Tapi ada semacam iman bagi mereka yang dianggapnya sebagai gaib, bahwa di periode membuat parangga itu adalah tata aturannya seperti yang sudah disebutkan adalah, uku ra lipa. Punggawa atau panggita yang menciptakan parangga dengan lipa made.

3. Nggalo Kai Sarente

Dengan menggunakan jerat, ada yang dibentuk dari kulit kerbau dan ada pula yang terbuat dari kawat, dipasang direntangkan pada daerah yang lazimnya dilalui oleh menjangan umumnya disebut riwa, juga pasang lamba lalu dihalau.

Semacam lagi caranya adalah menjangan dinantikan di kawasan yang sering dilaluinya itu. Orang duduklah di atas pohon kayu, dengan sarente di tangan yang demikian itu dikerjakan pada saat-dikala tertentu contohnya saat turun minum atau kembalinya pada siang hari, jika lalulah menjangan dan kebetulan orangnya cekatan pula, serente dimasukkan ke lehernya kemudian dilepaskan menggunakan sepotong kayu yang sudah diikatkan, bila dibawa lari niscaya akan menyangkut.

4  Nggalo Kai Mpou

Di antara cara-cara menangkap menjangan mirip yang sudah diterangkan di atas, maka yang paling asyik dan mempesona, yakni nggalo kai mpou. Semula menjangan diturunkan dari atas gunung dengan menggunakan anjing dan sehabis sampai di lapangan yang luas, di sana telah tersedia penunggang kuda yang cekatan dan tangkas dengan bento (jerat) di tangan. Menjangan yang telah ada di lapangan luas itu dikejarilah dengan kuda sampai dapat, yaitu dengan memasukkan jerat ke lehernya kemudian dilepas dengan kayu sepotong sebagai tangkainya, bila dibawa lari oleh menjangan pasti akan tersangkutlah beliau.

Tersebutlah tempat-tempat yang bagus untuk acara nggalo terutama yang memakai parangga, yaitu di sera Doro Ncanga hingga ke dalam hutan-hutan Tambora, yang sekarang sudah dijadikan Taman Buru Nasional.

Nggalo skala kecil dapat juga dilakukan di semua kawasan, sebab memang dahulu sangatlah banyak menjangannya.

Pengenalan

Sedikit diterangkan juga bagaimana caranya seorang punggawa atau anak buahnya dapat mengenali bakal banyaklah menjangan di sebuah kawasan pada sebuah waktu manakala akan dimulai Wa'a Lamba atau Lara Lamba supaya kelak niscaya ada menjangan di lingkar lamba.

Maka caranya mereka mengetahui ialah diadakan observasi lapangan yang sungguh hati-hati pada dikala angin tiada bertiup mengamati, jika:

a. Ada bekas-bekas kaki yang gres.

b. Ada kotoran kotoran menjangan yang gres.

C. Ada bunyi menjangan jantan.

Dari berbagai macam nggalo yang diliput di sini maka yang masuk sebagai hiburan rakyat yakni nggalo kai lako dan nggalo kai mpou, sedangkan selebihnya ialah nggalo selaku usaha mencari komplemen penghasilan rumah tangga, dan yang paling berbahaya di antaranya ialah parangga alasannya adalah akan mempercepat proses punahnya menjangan.



Israil M. Saleh,2020, Sekitar Kerajaan Dompu, buku litera, Yogyakarta h.  . . . . .321





Sumber https://www.mooreyi.com/

Sabtu, 03 April 2021

Kebudayaan Dan Hiburan Penduduk Dompu, Nente Jara Kapa Na'e

Ada pula suatu hiburan yang sangat terkesan kala itu Kebudayaan dan Hiburan Masyarakat Dompu, Nente Jara Kapa Na'e
Naik kuda src Wikipedia



Ada pula suatu hiburan yang sangat terkesan kurun itu, semacam rekreasi mirip sekarang, yakni pada musim-animo buah pada setiap tahun atau pada upacara-upacara kepercayaan, mirip lao bunga rade, lao cola naja, lao toho ra dore, diadakanlah semacam acara rekreasi atau hiburan yang umumnya disebut Lao Ngaha Caru, Lao Cola Naja, Lao Raho ra Pamao, dan dikerjakan pada dikala tertentu pula yaitu pada saat: 

+Musim buah, sehabis trend panen selesai, dan

+ Pada ketika melaksanakan upacara iman atau keagamaan

Nente Jara Kapa Nae artinya naik kuda berpelana besar yang dinaiki berdua antara perempuan dan laki-laki atau berpasangan. Walapun dibilang naik kuda berdua berpasangan, menurut adab istiadatnya lazimnya yang menjadi pasangan duduk berdua di atas kuda yakni suami istri, atau laki-laki sampaumur dan ibunya atau kerabat perempuannnya. Berpasangan antara pria dan wanita yang bukan mahramnya tidak dibolehkan oleh akhlak.

Salah satu yang menarik di sini yakni kebolehan seorang wanita duduk di atas punggung kuda dengan kaki yang dilipat (doho siwe) meskipun kuda sedang berlari makin kencang larinya kuda, semakin enaklah duduknya. Ini yakni merupakan salah satu ketrampilan khusus bagi kaum perempuan pada kala itu, dan oleh kesudahannya sangatlah tidak anggun jika seorang perempuan tidak mampu naik kuda.


Israil M. Saleh,2020, Sekitar Kerajaan Dompu, buku litera, Yogyakarta h.  . . . . .316


Sumber https://www.mooreyi.com/

Jumat, 02 April 2021

Budaya Dan Hiburan Masyarakat Dompu Lao Ngaha Caru

 

Budaya dan Hiburan Masyarakat Dompu Lao Ngaha Caru Budaya dan Hiburan Masyarakat Dompu Lao Ngaha Caru
Ngaha caru 


Di bawah ini diterangkan bentuk-bentuk ngaha caru yang dimaksud dengan banyak sekali variasinya, yakni:

a. Ngaha Caru di Musim Buah

Ngaha caru pada musim buah, maka tersebutlah di sini tempat kawasan buah tumbuh secara alami, maka di sanalah orang pergi beramai ramai. Ada yang pribadi pulang bila tempatnya akrab dan ada yang bermalam jika tempatnya jauh.

Dicatatlah di sini beberapa daerah yang ditumbuhi buah-buahan secara alami, ialah:

- Hodo dan sekitarnya.

- Dinggotabe dan sekitarnya.

- Doro Ncanga dan sekitarnya.

- Ndano Duwe Doro Nae Lamumbu.

- Saneo, Karamabura, dan sekitarnya.

- Sera Nae dan Sera Lua (Soriutu).

- Di Woko dan sekitarnya.

Buah-buahan yang berkembang secara alami di situ yaitu duwe, jambu, loka, bidara, dan lain-lain serta sangatlah banyaknya.

b. Ngaha Caru Musim Panen

Ngaha caru, lao ngepe uta, lao karingu diwu, Cara oi duwa, begitulah sebutannya yaitu di tepi pantai, di palung-palung sungai (diwu), atau di pantai disebut nanga (muara) atau cara oi (mengalihkan air sungai).

Di daerah-kawasan ini banyaklah ikannya dari berbagai jenis, mirip:

+ Diwu (palung sungai) terdapat ikan: kada, kahunggu, karondo, kapanto, karisa, lindu, duna, simbu, kamboo, sanggilo, ka'iha, ruma londe, mbura, mara iri, umpu, dan lain-lain.

+ Nanga (muara) pantai, juga terdapat ikan seperti diterangkan di atas ditambah lagi dengan aneka macam jenis keong dan siput bahari di tepi pantai, seperti: loge, kasilo, tontompihi, kongo, keu, kasi’i, kapa'a, hapiwadu, kamoko, kahangga, kaca'a, dan lain-lain.

Sedangkan untuk orang Kilo dan Hu'u ada pula jenis ikan yang spesifik dan tidak ada di kawasan lain, yakni:

- Di Kilo namanya ifu.

- Di Hu'u namanya mbenggo.

Adalah sejenis binatang yang konon terjadi di udara dan turun bareng air hujan di musim-isu terkini tertentu, di wura nciwi dan wura mpuru. Jenis binatang tersebut kalau jatuh di maritim atau sungai akan menjadi ikan, sedangkan apabila jatuh di darat akan menjadi ulat.

Ikan ini sangatlah lezat cita rasanya, menurut mereka kalau disimpan berlama-lama dikemaslah ia dengan rempah-rempah dan bumbu bumbu tradisional, dan jikalau dikonsumsi dalam bentuk segar, dimasak atau dikemas bersama santan kelapa lalu dipanggang bukan main enaknya. Ngaha caru seperti ini dilatarbelakangi oleh:

+ Kebiasaan pada ekspresi dominan final panen akan masuklah isu terkini kemarau, ikan di sungai dan muara sungai sangatlah banyaknya

+ Kebiasaan pada ekspresi dominan final panen yakni untuk melepaskan letih setelah penat dan capai melakukan pekerjaan di sawah dan ladang yang diikuti panen yang berhasil.

Pepatah menyampaikan, di mana ada air di situ ada ikan adalah kenyataan yang tidak perlu dibantah, bukan saja di bahari atau di sungai, namun sampai di rawa-rawa dan kubangan pun terdapat ikan di dalamnya. 

Di sisi lain insan selalu tak maupuas dalam kehidupan ini, kalau mencari ikan di bahari atau di sungai, tiada tabah kalau mengambilnya bertahap, dengan cara-cara menggunakan alat tradisional (nggawi, ndaha, puka, katotu, bodo, nggufa, tee sai, tee jari, jala, ikat rambut). Rasa mana tahannya selalu mendorongnya untuk mencari upaya lain, seperti:

+ Kalau mencari ikan di maritim agar memperoleh hasil yang banyak dan memuaskan hati, maka dipakailah bahan peledak.

+ Kalau mencari ikan di sungai atau di rawa, agar memperoleh hasil yang banyak dan membuat puas hati, maka dipakailah materi beracun.

Ngaha caru periode modern

Seiring berjalannya waktu bagi penduduk Dompu ngaha caru tidak hanya pergi ramai ramai pada ekspresi dominan buah, pada daerah buah berkembang secara alami, ataupun ngaha caru pada dikala trend panen.

Di masa modern ngaha caru lebih condong pergi rekreasi ke daerah yg indah secara bareng sama dengan menjinjing masakan yang yummy ( ngaha caru) biasa diadakan pada dikala liburan atau moment tertentu misalnya liburan semester dan pembagian raport, sehabis hari raya dll


Israil M. Saleh,2020, Sekitar Kerajaan Dompu, buku litera, Yogyakarta h.  . . . . .318


Sumber https://www.mooreyi.com/

Kamis, 01 April 2021

Kebudayaan Dan Hiburan Masyarakat Dompu, Karai Sampa

 

Semacam lagi hiburan rakyat yang tidak kurang asyiknya adalah lomba sampan Kebudayaan dan Hiburan Masyarakat Dompu,  Karai Sampa
Karai sampa


Semacam lagi hiburan rakyat yang tidak kurang asyiknya yaitu kontes sampan. Lomba sampan ini ada dua macam caranya, adalah:

a. Lomba mendayung

b. Lomba layar.

Keramaian ini yaitu kesenangan penduduk yang berdiam di pesisir pantai seperti di Soro dan Hu'u. Wujud hiruk pikuk ini menampilkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, alasannya adalah curahan lezat-Nya. Lomba sampan ini lazimnya dijalankan pada demam isu kemarau.



Israil M. Saleh,2020, Sekitar Kerajaan Dompu, buku litera, Yogyakarta h.  . . . . .326


Sumber https://www.mooreyi.com/

Keindahan Rekreasi Bukit Matompo Dompu Ntb

Keindahan wisata alam bukit matompo Dompu NTB Keindahan Wisata Bukit Matompo Dompu NTB
Bukit Matompo src: http://jarvis-fisipol066.blogspot.com/



 Bukit Matompo ialah salah satu rekreasi Dompu yang berada tepat di Desa Mbuju Kecamatan Kilo. Wisata Bukit Matompo dikenal dengan hamparan rumput ilalang yang tumbuh subur diatas bukit yang menjulang tinggi pada bibir pantai Desa Mbuju. Bukit Matompo sungguh ramai dikunjungi oleh turis Domestik alasannya adalah keindahan alam yang disuguhkan. 

 Lokasi bukit matompo juga mudah diakses selain itu juga letaknya di pinggir jalan sehingga gampang untuk didapatkan

Bukit Matompo yaitu bukit yang berada pinggir pantai dan terpisah dari perbukitan lain alasannya adalah dilalui jalan raya. Bukit Matompo yang terpisah dengan dilalui jalan raya ini yang menimbulkan bukit Matompo mempunyai keindahan tersendiri.

Keindahan Bukti Matompo

 Keindahan Bukti Matompo memiliki kesempatanuntuk untuk dijadikan salah satu kawasan wisata di Dompu. Selain dengan hidangan rumput ilalang yang berwarna hijau, dengan ketinggiannya, Bukit Matompo mampu menyuguhkan pemandangan yang tidak kalah indahnya. Seperti Gunung Tambora yang menjulang kelangit mampu dilihat eksklusif dari Matompo, ditambah lagi dengan keindahan air bahari berwarna biru yang mengelilingi bukit Matompo.  bukit Matompo sungguh ramai ketika waktu sore khususnya bagi yang ingin menikmati senja sebab menambah keindahan panorama di bukit matompo.

       Diatas Bukit Matompo  tidak terdapat pepohonan yang tumbuh, hanya ada satu pohon yang tumbuh itupun terletak pada ujung bukit yang berdekatan dengan bibir tebing. Untuk mampu menaiki bukit Matompo, telah dipasang Tangga Darurat yang terbuat dari batangan kayu oleh golongan Kompak, namun pada saat menuju bukit, pengunjung mesti tambahan hati hati alasannya adalah jalannya yang sedikit sungguh curam. Walau pun demikian saluran untuk naik ke atas bukit masih dibilang ekstrim.

      Pada Spot wisata Bukit Matompo ini uniknya tidak memberlakukan sistim penarikan retribusi parkir dan yang lain, cuma saja pengelola bukit Matompo mewajibkan pengunjung untuk tidak mencampakkan sampah asal-asalan, tidak menginjak rumput supaya rumput tidak mati, mesti hati hati supaya tidak jatuh dan juga mengharuskan pengunjung menyisihkan air mineral untuk menyirami pohon yang sudah ditanam supaya ada tempat berteduh bagi pengunjung sendiri.  

Jika ingin berkunjung ke rekreasi bukit Matompo ada baiknya sore hari karena waktu tersebut menyajikan keindahan yang sangat eksotis dan juga matahari mulai tidak lagi menyengat.


Sumber https://www.mooreyi.com/

Rabu, 24 Maret 2021

Beberapa Budaya Dan Hiburan Masyarakat Dompu

Beberapa Budaya dan Hiburan Masyarakat Dompu Beberapa Budaya dan Hiburan Masyarakat Dompu
Budaya khas Dompu



Masyarakat Dompu memiliki ragam khazanah budaya serta hiburan yang sendiri dengan keunikan kawasan dengan wilayah nusantara lain.
Keragaman khas budaya dan hiburan masyarakat mesti selalu tetap terjaga.

pentingnya menjaga keberlangsungan ciri khas budaya dan hiburan masyarakat oleh karena itu peluang ini kita akan mengulas beberapa kebudayaan dan hiburan penduduk daerah Dompu

Pacoa Jara

Pacuan kuda demikianlah artinya, merupakan sebuah hiruk pikuk anak negeri dan menjadi hiburan yang paling disenangi. Kegemaran ini didorong oleh lingkungan hidupnya selaku petani dan peternak, alasannya adalah keuntungannya untuk mendukung perjuangan pertanian mirip kerbau untuk membajak sawah dan memuat padi, untuk kendaraan, untuk tunggangan dan juga untuk beban.

Karena itu dahulu negeri ini dikenal menghasilkan kuda dan kerbau. yang juga diperdagangkan antarpulau seperti ke Pasuruan, Bondowoso Situbondo, Probolinggo dan lain-lain. Sedangkan kerbau untuk dalam negeri ke Palembang, Jambi, Surabaya dan Jakarta, untuk luar negeri ke Hongkong dan Singapura.

Pengangkutan hewan yang diperdagangkan antarpulau dari Dompu dulu sebelum Pelabuhan Bima dibuat ialah lewat Pelabuhan Soro Kilo di Kecamatan Kilo kini, juga melalui Pelabuhan Kempo.

Kegemaran pacuan kuda ini meningkat hingga jadi hobi raja-raja atau pembesar-pembesar negeri, maka dengan demikian hiburan yang paling ramai pada kala itu satu-satunya adalah pacuan kuda. Mula-mula pacuan kuda dijalankan di masing-masing daerah, lama kelamaan dikerjakan secara teroganisir, dengan dibentuknya organisasi pacuan kuda yang berjulukan Himpunan Pacuan Kuda Dompu, Himpunan Pacuan Kuda Kempo, dan Himpunan Pacuan Kuda Hu'u.

Jadwal Pacoa Jara
Dengan telah dibentuknya himpunan pacuan kuda tersebut, maka diaturlah acara pacuan kuda selaku berikut:

1. Diadakan pacuan kuda tingkat kejenelian dengan akseptor kuda yang ada di dalam kejenelian. 

2. Diadakan pacuan kuda tingkat kawasan kerajaan, dengan akseptor penerima yang menang di tingkat kejenelian.

3. Diadakan pacuan kuda antara kawasan Kerajaan Dompu, Bima, dan Sumbawa, lokasinya bergantian di antara tempat tersebut,

Saat-ketika untuk lomba pacuan kuda ialah sesudah tamat panen padi dan dilaksanakan bertepatan dengan hari-hari besar Islam pada waktu itu.

Tiap pacuan kuda diadakan, kuda yang tercatat ikut berjumlah 200 300 ekor banyaknya dan umumnya dikelompokkan dalam beberapa kelas, misalnya:

Kelas C, yaitu kuda yang paling tinggi.
Kelas B, adalah kuda yang sedang tingginya.
Kelas A, yaitu kuda pendek atau kuda tunas namanya.
Seperti dijelaskan di atas, memelihara kuda pacuan bukanlah hal yang mudah. Selain memerlukan ongkos pemeliharaan yang banyak, juga mesti memilki tanda-tanda tertentu yang disebut kalisu atau pusaran yang pada umumnya setiap kuda terdapat berbeda.

Jenis-jenis kalisu (pusaran) pada kuda
Jenis-jenis kalisu (pusaran) pada kuda, ialah:

1. Kalisu panta paju (tancap payung), terletak pada bagian: Punggung bagian belakang (kamoto). Punggung bagian tampang (paratama).

2. Kalisu wole (pasak), terletak pada bab kiri-kanan ketiak kaki muka. 

3. Kalisu colokomba, terletak pada bagian kiri-kanan pangkal telinga bab belakang.

4. Kalisu mbuda ade (buta hati), terletak pada bab dahi (tantangga). 

Di antara jenis kalisu mirip dijelaskan di atas, maka yang pantang bagi seekor kuda pacuan maupun kuda tunggang (jara sadonda), ialah jika memiliki:

a. Kalisu wole: kuda semacam ini memiliki sifat suka meronta-ronta dan membahayakan bagi joki, lagi pula tidak begitu kuat.

b. Kalisu colokomba: kuda semacam ini memiliki sifat: Apabila letaknya berpapasan, tabiatnya baik. Apabila tidak berpapasan letaknya, tabiatnya tidak baik, disebut kabeu (males) dan bila berlari suka maju mundur.

c. Kalisu mbuda ade: kuda semacam ini memiliki sifat: Apabila letaknya di bagian atas matanya, tabiatnya baik. Apabila letaknya di bagian bawah matanya, tabiatnya tidak baik.

Jenis warna bulu kuda
Jenis warna bulu kuda pun menjadi opsi yang serius juga bagi para penggemar kuda, misalnya bulu hitam, karonde, cimbi, dan karaba, serta yang paling baik berbulu warna mbera bermata hitam, alat kelaminnya hitam dan kuku kakinya berwarna hitam pula.

Selain pantangan karena kuda memiliki gejala atau kalisu yang tidak baik, maka adapula pantangan yang dikaitkan dengan sifat sifat pemilik kuda tersebut, bahkan merupakan semacam kepercayaan adanya yang dihubungkan dengan slogan dou Dompu dalam kehidupan yang mengatakan, bahwa hidup yang tepat itu yakni apabila disokong oleh empat unsur, adalah:

1. Wei taho (istri yang bagus).

2. Uma taho (rumah yang baik).

3. Besi taho (senjata yang baik).

4. Jara taho (kuda yang bagus).

Di satu segi, yang dimaksud dengan kuda yang baik ialah kuda yang mempunyai persenyawaan (rohani) yang sesuai, cocok, dan searah dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh pemiliknya.

Percaya atau tidak, hal yang demikian itu mampu dibuktikan dengan realita, yaitu:

a. Apabila seseorang sudah memiliki seekor kuda, kehidupan rumah tangganya aman sejahtera, rezekinya bertambah. Itu pertanda mempunyai Jara taho.

b. Apabila seseorang dulu-dulunya hidup rumah tangganya baik, kondusif tentram dan senang, akan namun sesudah mempunyai kuda, keadaan menjadi sebaliknya, sering berbantah-bantah dengan istri. tetangga, dan rezekinya kian menurun, itu adalah pertanda ia memiliki kuda yang tidak baik.

Jika seekor kuda yang menjadi peliharaan sering meringkik di tengah malam dengan suaranya yang menakutkan, maka kuda semacam itu sangatlah terlarang untuk dipelihara.

 Kuda yang mempunyai gejala yang bagus serta mempunyai persenyawaan dengan pemiliknya, maka begitu mahal.

Lao Nggalo

Menangkap binatang liar seperti babi, rusa, kerbau liar, dan kambing liar, itulah yang disebut nggalo. Kegiatan ini tergolong salah satu yang menjadi hiburan baik bagi rakyat maupun raja. Kegiatan nggalo ini berisikan:

- Nggalo ndai, adalah mencari binatang liar yang dilakukan secara individual atau sekelompok kecil orang di daerah lazim yang tidak terlarang

- Nggalo ndiha, yakni mencari binatang liar yang dilakukan oleh raja bareng pembesar-pembesar negeri dengan rakyatnya, selaku salah satu kesenangan dan rekreasi dari raja dan pembesar-pembesar negeri yang lain pada kurun itu.

Tempat-daerah untuk raja melaksanakan kegiatan nggalo ndiha itu ialah tertentu pula dan daerah itu lazimnya disebut Ruhu Ruma atau kawasan raja berburu dan tersebutlah di sini beberapa kawasan, seperti:

1. Ranggo, di ujung utara so Ranggo-Doro Ruhu-sebelah selatan jalan menuju Jambu.

2. Tonda, di tampang Potu ra Mata-Lampalisu.

3. Kempo, di sebelah barat Kampung Soro yang disebut Doro Kola. 

Di tempat-tempat ini, pada jangkauan tertentu, rakyat tidak diperbolehkan masuk ke dalamnya untuk melakukan aktivitas nggalo karna dikhususkan kebutuhan nggalo ndiha bagi raja. Adapun caranya nggalo ndiha dijalankan, seluruh rakyat yang berada di erat tempat itu diberitahukan akan ada dilaksanakan nggalo ndiha. Pada hari yang sudah diputuskan, seluruh rakyat bau tanah muda naik ke gunung dalam jarak yang jauh hingga-hingga puluhan kilometer, membawa anjing, tombak, dan lain-lain untuk menghalau menjangan, sedangkan raja beserta pembesar-pembesar negeri yang lain sudah menanti dan siap menanti di Ruhu Ruma, di kawasan yang sudah dibangun sebelumnya, namanya Sanggopa.

Orang banyak menghalau menjangan dari gunung supaya turun ke bawah, lalu lari terbirit-birit di hadapan raja dan pembesar pembesar negeri diburudengan anjing dan manusia dengan tombak. Raja dan pembesar-pembesar negeri lain sudah siap dengan senapan yang siap ditembakkan.

Rakyat pun menganggap yang demikian yakni kesenangan bersama antara raja dengan mereka, sedangkan untuk mereka yang ingin memperlihatkan kecekatan serta ketangkasan di hadapan raja, menjangan diburudan ditangkap hidup-hidup, diusung dan dielu-elukan di hadapan raja disanjung dan disanjunglah ia oleh raja dan untuk potensi -kesempatan selanjutnya orang demikian mesti senantiasa diikutkan.

Menurut umumnya nggalo ndiha ini, maka berpuluh bahkan beratus ekor menjangan mampu ditangkap yang alhasil secukupnya saja dibawa ke istana untuk raja dan permaisuri, selebihnya dibagikan terhadap pembesar-pembesar negeri lainnya juga kepada rakyat sekalian.

Dalam program ini permaisuri dan putra putri raja ikutlah dibawa serta.

Dikejar oleh anjing bersama orang berkepanjangan dan berjauh jauhan di padang yang luas atau di sawah, itulah pemandangan yang mengasikkan bagi raja. Apalagi kalau nggalo ndiha itu dijalankan di Ruhu Kuma-Tonda atau di Soro-Kempo, di mana menjangan akan lari masuk ke dalam laut, diburudengan sampan, dikejar oleh anjing dan oleh orang yang punya kemahiran berenang, hal ini mempunyai keasikan tersendiri pula.

Nggalo berdasarkan pengertian yang sesungguhnya yakni menangkap hewan liar dengan memakai anjing. Namun dalam pelaksanaannya digunakan juga perlengkapan sebagai berikut:

1. Puka dan katotu untuk babi.

2. Sarente atau jerat untuk menjangan, kuda dan kerbau liar.

3. Bento mpou kai jara.

Untuk meraih kesuksesan dalam mempergunakan aneka macam jenis alat ini, orang mesti memiliki ketrampilan dan pengetahuan tertentu mengenai memelihara anjing berburu dan membuat alat-alatnya.

1. Nggalo Kai Puka atau Katotu

Ini khusus untuk babi. Puka yaitu semacam alat yang dibentuk dari tali atau kulit kerbau, semacam jala bermata besar yang mudah dikerutkan jika tentang mangsanya, dibuat berpintu satu. Apabila babi masuk ke dalamnya maka tiadalah kemungkinan untuk melepaskan diri lagi sebab puka tersebut akan berkerut dan akan tertutup dengan sendirinya.

Katotu pun demikian pula halnya karena dibuat dalam bentuk lancip ujung belakangnya, dibentuk dari bambu lingkaran atau kayu dan dipasang di tempat-daerah yang miring letaknya, alasannya sesudah babi masuk eksklusif meluncur ke bawah tanpa mampu berbalik lagi.

Tempat yang paling baik untuk memasang alat-alat semacam ini yakni yang paling kerap dilalui oleh babi setiap harinya, ini disebut riwa.

2. Nggalo Kai Parangga

Perangkap itulah artinya, lazimnya dibuat di dalam sungai yang bertebing curam, ditutuplah sungai di atas dan di bawahnya dengan pagar kayu yang berpengaruh dan tinggi. Bila menjangan digiring masuk ke dalamnya, maka sukarlah untuk melepaskan diri kembali. Biasanya yang dipakai yakni sungai yang tidak berair (sungai kering).

Parangga ini biasanya dipimpin oleh seorang yang disebut punggawa atau panggita, karena untuk menciptakan parangga haruslah ada tata aturannya yang dinamakan uku ra lipa.

Punggawa atau panggita yang menciptakan parangga itu dianggap sebagai seorang ahli, yang kalau membuat parangga itu khusus menjangan maka dipakailah lipa made, maksudnya segala hewan yang masuk ke dalam parangga tiadalah cita-cita untuk hidup. Lain pula cara menciptakan parangga untuk menangkap kerbau liar, kuda liar, yang tujuannya untuk dijinakkan dan dipelihara, maka ukuran yang dipakai yaitu lipa mori.

Banyak lucu tetapi ada benarnya, semacam lagi lazimnya antara punggawa yang satu dengan punggawa yang yang lain saling bersaing dalam menawarkan kemahiran dan kesaktiannya masing-masing dalam membuat parangga supaya menerima hasil yang banyak.

Dalam kompetisi ini ada pula semacam mistik, pantangan bagi menjangan yang menurut mereka yakni bila ditanamkan kulit siput di pintu masuk parangga, maka seekor pun menjangan tiadalah berani masuk ke dalam parangga, walau dihalau bagaimanapun menjangan itu akan kembali lari, adakala orang yang menghalaunya dilanggarnya. Rupanya sang menjangan sungguh setia pada sumpahnya yang berdasarkan ceritanya telah menyerah kalah tanpa syarat pada sang siput ketika diadakan kontes lari yang dimenangkan oleh siput dengan segala tipu muslihatnya, yang ceritanya akan diliput pada potensi selanjutnya.

Cara menggiring menjangan masuk ke dalam parangga adalah semula pada sore harinya direntangkanlah lamba, yakni tali yang dibentuk dari daun enau, laju namanya di Dompu disambung sampai lima atau sepuluh kilometer panjangnya direntangkan setinggi tubuh dalam bentuk segi empat atau lingkaran telur tergantung pada situasi medan yang ujungnya nanti, akan berjumpa dan diikatkan pada kedua belah pintu parangga.

Satu hal yang aneh tetapi benar pula, lamba yang lebarnya sekitar 2 cm itu tidaklah berani dilanggar oleh menjangan. Kalau pun hal ini terpaksa terjadi dan ini cuma disebabkan sesuatu yang terjadi adanya pantangan yang disimpan orang di pintu parangga, maka menjangan itu akan menemui nasib malang, di dalam dagingnya akan tumbuh atau terjadi semacam gumpalan air yang lama kelamaan akan berproses menjadi semacam tepung putih yang keras, dan akan meranalah hidupnya, orang menamakan putu oi.

Setelahnya lamba tamat direntangkan, maka sekitar jam 3 malam mulailah punggawa beserta seluruh anggotanya mengusir menjangan yang ada di dalam lingkaran lamba tadi digiring untuk masuk ke dalam parangga. Ini disebut Bali atau Baka dan berlarianlah menjangan itu menuju muara parangga dan masuklah menerima nasibnya, besar kecil tidaklah terkecuali. Bila untung baik maka jumlah menjangan yang masuk terbilang puluhan bahkan ratusan banyaknya.

Suatu hal yang lucu pula adanya yakni apabila yakni bawah umur menjangan yang kecil yang dianggap belum patut disembelih, ingin dilepas atau ditangkap dengan tujuan untuk dipelihara tidaklah mampu hidup. Syukarlah dianalisa karena-alasannya adalah yang demikian ini bisa terjadi, apakah alasannya adalah letih dan capai akibat digiring dari tempat yang jauh kemudian masuk ke dalam parangga dengan berdesak-desakan, membuat kondisi badannya berganti, ketahanan tubuhnya hilang tetapi cacat badan tiada terlihat . Tapi ada semacam kepercayaan bagi mereka yang dianggapnya selaku gaib, bahwa di kurun membuat parangga itu yaitu tata aturannya seperti yang telah disebutkan yakni, uku ra lipa. Punggawa atau panggita yang membuat parangga dengan lipa made.

3. Nggalo Kai Sarente

Dengan menggunakan jerat, ada yang dibuat dari kulit kerbau dan ada pula yang terbuat dari kawat, dipasang direntangkan pada daerah yang biasanya dilalui oleh menjangan umumnya disebut riwa, juga pasang lamba lalu dihalau.

Semacam lagi caranya yakni menjangan ditunggu di daerah yang sering dilaluinya itu. Orang duduklah di atas pohon kayu, dengan sarente di tangan yang demikian itu dikerjakan pada saat-ketika tertentu misalnya saat turun minum atau kembalinya pada siang hari, jikalau lalulah menjangan dan kebetulan orangnya terampil pula, serente dimasukkan ke lehernya lalu dilepaskan memakai sepotong kayu yang telah diikatkan, jika dibawa lari pasti akan menyangkut.


4 Nggalo Kai Mpou

Di antara cara-cara menangkap menjangan seperti yang telah dijelaskan di atas, maka yang paling asyik dan menarik, adalah nggalo kai mpou. Semula menjangan diturunkan dari atas gunung dengan menggunakan anjing dan sesudah sampai di lapangan yang luas, di sana sudah tersedia penunggang kuda yang terampil dan tangkas dengan bento (jerat) di tangan. Menjangan yang sudah ada di lapangan luas itu dikejarilah dengan kuda hingga dapat, yakni dengan memasukkan jerat ke lehernya lalu dilepas dengan kayu sepotong selaku tangkainya, bila dibawa lari oleh menjangan pasti akan tersangkutlah ia.

Tersebutlah tempat-daerah yang bagus untuk acara nggalo terutama yang memakai parangga, ialah di sera Doro Ncanga hingga ke dalam hutan-hutan Tambora, yang sekarang sudah dijadikan Taman Buru Nasional.

Nggalo skala kecil mampu juga dilaksanakan di semua tempat, alasannya memang dulu sangatlah banyak menjangannya.

Pengenalan

Sedikit diterangkan juga bagaimana caranya seorang punggawa atau anak buahnya dapat mengetahui bakal banyaklah menjangan di suatu kawasan pada suatu waktu manakala akan dimulai Wa'a Lamba atau Lara Lamba biar kelak niscaya ada menjangan di lingkar lamba.

Maka caranya mereka mengetahui yaitu diadakan observasi lapangan yang sangat hati-hati pada dikala angin tiada bertiup memperhatikan, jika:

a. Ada bekas-bekas kaki yang baru.

b. Ada kotoran kotoran menjangan yang gres.

C. Ada suara menjangan jantan.

Dari berbagai macam nggalo yang diliput di sini maka yang masuk sebagai hiburan rakyat ialah nggalo kai lako dan nggalo kai mpou, sedangkan selebihnya yakni nggalo sebagai usaha mencari tambahan penghasilan rumah tangga, dan yang paling berbahaya di antaranya yakni parangga sebab akan mempercepat proses punahnya menjangan.

Karai sampa

Semacam lagi hiburan rakyat yang tidak kurang asyiknya yakni lomba sampan. Lomba sampan ini ada dua macam caranya, adalah:

a. Lomba mendayung

b. Lomba layar.

Keramaian ini yakni kesenangan penduduk yang berdiam di pesisir pantai seperti di Soro dan Hu'u. Wujud hiruk pikuk ini menampilkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, alasannya curahan lezat-Nya. Lomba sampan ini biasanya dilakukan pada animo kemarau.

Ngaha caru

Di bawah ini dijelaskan bentuk-bentuk ngaha caru yang dimaksud dengan berbagai variasinya, ialah:

a. Ngaha Caru di Musim Buah

Ngaha caru pada demam isu buah, maka tersebutlah di sini kawasan tempat buah berkembang secara alami, maka di sanalah orang pergi beramai ramai. Ada yang langsung pulang bila tempatnya dekat dan ada yang bermalam jikalau tempatnya jauh.

Dicatatlah di sini beberapa tempat yang ditumbuhi buah-buahan secara alami, yakni:

- Hodo dan sekitarnya.

- Dinggotabe dan sekitarnya.

- Doro Ncanga dan sekitarnya.

- Ndano Duwe Doro Nae Lamumbu.

- Saneo, Karamabura, dan sekitarnya.

- Sera Nae dan Sera Lua (Soriutu).

- Di Woko dan sekitarnya.

Buah-buahan yang tumbuh secara alami di situ adalah duwe, jambu, loka, bidara, dan lain-lain serta sangatlah banyaknya.

b. Ngaha Caru Musim Panen

Ngaha caru, lao ngepe uta, lao karingu diwu, Cara oi duwa, begitulah sebutannya yakni di tepi pantai, di palung-palung sungai (diwu), atau di pantai disebut nanga (muara) atau cara oi (mengalihkan air sungai).

Di kawasan-daerah ini banyaklah ikannya dari banyak sekali jenis, mirip:

+ Diwu (palung sungai) terdapat ikan: kada, kahunggu, karondo, kapanto, karisa, lindu, duna, simbu, kamboo, sanggilo, ka'iha, ruma londe, mbura, mara iri, umpu, dan lain-lain.

+ Nanga (muara) pantai, juga terdapat ikan mirip dijelaskan di atas ditambah lagi dengan aneka macam jenis keong dan siput maritim di tepi pantai, mirip: loge, kasilo, tontompihi, kongo, keu, kasi’i, kapa'a, hapiwadu, kamoko, kahangga, kaca'a, dan lain-lain.

Sedangkan untuk orang Kilo dan Hu'u ada pula jenis ikan yang spesifik dan tidak ada di tempat lain, yakni:

- Di Kilo namanya ifu.

- Di Hu'u namanya mbenggo.

Adalah sejenis hewan yang konon terjadi di udara dan turun bersama air hujan di ekspresi dominan-isu terkini tertentu, di wura nciwi dan wura mpuru. Jenis binatang tersebut jika jatuh di maritim atau sungai akan menjadi ikan, sedangkan kalau jatuh di darat akan menjadi ulat.

Ikan ini sangatlah lezat cita rasanya, berdasarkan mereka bila disimpan berlama-lama dikemaslah dia dengan rempah-rempah dan bumbu bumbu tradisional, dan jikalau dimakan dalam bentuk segar, diolah atau dikemas bareng santan kelapa kemudian dipanggang bukan main enaknya. Ngaha caru seperti ini dilatarbelakangi oleh:

+ Kebiasaan pada animo tamat panen akan masuklah musim kemarau, ikan di sungai dan muara sungai sangatlah banyaknya

+ Kebiasaan pada isu terkini tamat panen yaitu untuk melepaskan letih setelah penat dan capai melakukan pekerjaan di sawah dan ladang yang disertai panen yang berhasil.

Pepatah mengatakan, di mana ada air di situ ada ikan yakni kenyataan yang tidak perlu dibantah, bukan saja di bahari atau di sungai, tetapi hingga di rawa-rawa dan kubangan pun terdapat ikan di dalamnya. 

Di sisi lain insan selalu tidak inginpuas dalam kehidupan ini, bila mencari ikan di laut atau di sungai, tiada sabar bila mengambilnya sedikit demi sedikit, dengan cara-cara menggunakan alat tradisional (nggawi, ndaha, puka, katotu, bodo, nggufa, tee sai, tee jari, jala, ikat rambut). Rasa mana tahannya selalu mendorongnya untuk mencari upaya lain, mirip:

+ Kalau mencari ikan di bahari supaya mendapatkan hasil yang banyak dan membuat puas hati, maka dipakailah materi peledak.

+ Kalau mencari ikan di sungai atau di rawa, supaya memperoleh hasil yang banyak dan memuaskan hati, maka dipakailah bahan beracun.

C. Ngaha caru kala modern

Seiring berjalannya waktu bagi masyarakat Dompu ngaha caru tidak hanya pergi ramai ramai pada trend buah, pada daerah buah berkembang secara alami, ataupun ngaha caru pada dikala trend panen.

Di kala terbaru ngaha caru lebih cenderung pergi wisata ke tempat yg indah secara bersama sama dengan menjinjing kuliner yang lezat ( ngaha caru) umumdiadakan pada saat piknik atau moment tertentu contohnya liburan semester dan pembagian raport, setelah hari raya dll

Nente Jara Kapa nae 

Ada pula suatu hiburan yang sangat terkesan kala itu, semacam rekreasi mirip sekarang, ialah pada isu terkini-demam isu buah pada setiap tahun atau pada upacara-upacara iktikad, seperti lao bunga rade, lao cola naja, lao toho ra dore, diadakanlah semacam aktivitas rekreasi atau hiburan yang umumnya disebut Lao Ngaha Caru, Lao Cola Naja, Lao Raho ra Pamao, dan dikerjakan pada saat tertentu pula adalah pada saat: 

+Musim buah, sehabis musim panen simpulan, dan

+ Pada saat melakukan upacara dogma atau keagamaan

Nente Jara Kapa Nae artinya naik kuda berpelana besar yang dinaiki berdua antara wanita dan laki-laki atau berpasangan. Walapun dibilang naik kuda berdua berpasangan, berdasarkan budbahasa istiadatnya lazimnya yang menjadi pasangan duduk berdua di atas kuda yakni suami istri, atau laki-laki cukup umur dan ibunya atau kerabat perempuannnya. Berpasangan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya tidak dibolehkan oleh adab.

Salah satu yang menawan di sini adalah kebolehan seorang wanita duduk di atas punggung kuda dengan kaki yang dilipat (doho siwe) meskipun kuda sedang berlari makin kencang larinya kuda, makin enaklah duduknya. Ini ialah ialah salah satu ketrampilan khusus bagi kaum wanita pada era itu, dan oleh kesudahannya sangatlah tidak elok jika seorang perempuan tidak mampu naik kuda.

Karai Jara

Karai Jara yakni hiburan yang diadakan dalam rangka upacara upacara seperti Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Idul Adha dan Maulid Nabi Muhammad SAW. Setelah kembali dari masjid menunaikan sembahyang maka sungguh ramailah kaum lelaki berkemas-kemas, bau tanah-muda, khususnya sampaumur-remaja, dengan kudanya masing-masing yang sejak kemarin telah diikat di rumah.

Karai Jara dimaksud dijalankan di jalan raya pulang pergi dalam suatu alur atau berkeliling kampung. Para penonton berjejal-jejal di pinggir jalan untuk mengelu-elukan kemahiran mereka. Ada juga yang menonton dari atas lotengnya yaitu gadis-gadis pingitan, dan bila kebetulan remaja-remaja penunggang kuda itu kebetulan baginya. Hiburan semacam ini diadakan pada pagi hari dan sore hari, dan akanlah sangat mengasikkan lagi apabila para pengendara kuda tadi ikut ditonton oleh pacarnya di atas loteng kawasan dia bertenun atau daerah ia

dipingit. Kuda yang dipakai untuk hiburan ini dicari dan dilatih dari kuda yang manis, dan larinya akan dinamakan rai lao dengan alat-alat penunggang terdiri dari kapa (pelana) yang dibentuk khusus semacam kasur kecil dan tali kekangnya dibuat dari benang yang dianyam yang dinamakan ai kobi tanpa menggunakan pengait kaki yang di sebut satonda.







sumber :

Israil M. Saleh, Sekitar Kerajaan Dompu,2020, buku litera, Yogyakarta h. . . . . .313


Sumber https://www.mooreyi.com/

Sabtu, 20 Maret 2021

Sejarah Terbentuknya Kabupaten Dompu

 

kabupaten Dompu ini dulunya adalah bekas wilayah kerajaan Sejarah Terbentuknya Kabupaten Dompu


Wilayah Daerah Tingkat II Dompu /kabupaten Dompu ini dulunya yakni bekas daerah kerajaan/kesultanan Status tempat kabupaten yang diperolehnya justru alasannya adalah nilai historis yang dimilikinya sebagai daerah kerajaan/ kesultanan yang telah bangun sendiri sejak lama dengan jumlah raja/ sultan yang telah memerintah sebanyak 29 orang.

Hari lahirnya sesuatu daerah jikalau ingin ditetapkan tentu dihitung dikala daerah itu mulai membentuk dirinya dalam kehidupan berpemerintahan sendiri. Maka sejak adanya pemukiman di daerah ini, masyarakatnya telah menata dirinya dalam kehidupan berpemerintahan:

1. Awal kehidupan berpemerintahan di Dompu yaitu yang disebut zaman Ncuhi, yakni suatu komplotan hidup kemasyarakatan yang kecil yang dikepalai oleh Ncuhi atau kepala suku. Dalam komplotan penduduk seperti ini belum ada nama kampung, desa atau marga seperti kini, akan tetapi istilah nggaro di Dompu dan lewi di Bima, itulah nama daerah pemukiman buat mereka pada zamannya.

2. Periode selanjutnya yakni pengelompokan kehidupan dalam bentuk yang lebih besar lagi dengan kawasan yang lebih luas. Persekutuan hidup kemasyarakatan seperti ini dipimpin oleh seorang raja

Dalam uraian kapan berdirinya kawasan Dompu, mulai dari berupa Kerajaan hingga Pemerintah kawasan Dompu, maka akan dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah tanah air atau sejarah nasional kita wacana identitas yang dimilikinya, antara lain:

1. Sejarah ihwal berdirinya Kerajaan Sriwijaya di Sumatera sebagai negara nasional pertama di Nusantara, sekitar tahun  700 hingga 900 Menurut catatan dalam buku Atlas Sejarah karangan Prof. M. Yamin Negeri Dompu sudah ada.

2. Setelah Kerajaan Sriwijaya sirna, maka muncul pula di Pulau Jawa sebuah kerajaan nusantara bernama Kerajaan Majapahit tahun 1293 sampai 1521 M, Kerajaan Dompu tetap berada di dalamnya Perlu dicatat di sini salah satu pengakuan sejarah mirip yang disebutkan dalam Sumpah Palapa tahun 1331 yang diucapkan oleh Maha Patih Gajah Mada dengan isi selengkapnya berbunyi "Saya gres akan berhenti berpuasa makan Palapa bila seluruh Nusantara bertakluk di bawah kekuasaan negara, bila Gurun. Seran, Tanjung Pura, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang dan Tumasik telah ditaklukkan."

Dengan demikian ini berarti di sebelah timur Pulau Jawa sudah ada suatu kerajaan yang kuat dan perlu dipertimbangkan yakni Kerajaan Dompu. Dan ternyata Kerajaan Majapahit pernah mengantarkan prajuritnya untuk menaklukkan Kerajaan Dompu dan berdasarkan catatan yang disokong oleh kisah kisah orang bau tanah sudah terjadi peperangan yang dahsyat antara pasukan Majapahit dan pasukan Kerajaan Dompu. Peristiwa ini terjadi berkisar pada tahun 1340 M, dengan menjinjing banyak korban di antara kedua belah pihak yang berkesudahan dengan kekalahan pasukan Majapahit. Serangan kedua terjadi sekitar tahun 1357 M yang berkesudahan dengan kalah dan takluknya Kerajaan Dompu di bawah panji-panji Kerajaaan Majapahit.' Peperangan ini dikenal dengan Perang Tanding, atas kesepakatan kedua panglima dari Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Dompu untuk menghindarkan pertumpahan darah dan banyaknya korban.

3. Pada dikala seluruh daerah Nusantara mulai dijajah oleh Belanda, Kerajaan Dompu pun termasuk di dalamnya. Akan tetapi Kerajaan Dompu tidaklah bertakluk tanpa syarat pada Kerajaan Belanda. Selama periode penjajahan Belanda yang panjang di Indonesia, Kerajaan Dompu telah berkali-kali mengadakan perjanjian kerja sama dengan Belanda, dan selaku akhir bertakluknya Sultan Hasanuddin yang dikokohkan dengan Perjanjian Bungaya tahun 1667, ketika itu ialah titik permulaan Kerajaan Dompu mesti membuat perjanjian kolaborasi dengan pemerintah Belanda, sebab dengan takluknya Sultan Hasanuddin bermakna takluknya kerajaan-kerajaan di Pulau Sumbawa. Perjanjian-kesepakatanitu adalah kesepakatanantara Belanda dengan:

  • Sultan Abdullah, putra Sultan Muhammad Salahuddin
  • Sultan Muhammad Sirajuddin, putra Sultan Abdullah Perjanjian lainnya sudah tidak didapatkan lagi, entah di mana adanya.

4. Tulisan-goresan pena yang berkenaan dengan Pulau Sumbawa terdapat juga di dalam buku Negarakertagama tahun 1365, ketika Majapahit menguasai Pulau Sumbawa, dikala dimana di Pulau Sumbawa sudah bangkit kerajaan, yang masing-masing telah mempunyai struktur politik yang mantap dan pemerintahan yang terstruktur.

5. Saat penjajahan Belanda yang lalu disusul dengan penjajahan Jepang. Saat itu pemerintahan Kerajaan Dompu dalam keadaan vakum alasannya Sultan Muhammad Sirajuddin dibuang Belanda ke Kupang dan meninggal di sana. Oleh pendudukan Jepang, Kerajaan Dompu ini digabungkan dengan Kerajaan Bima

6. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia bagian timur masih dikuasai Belanda

Maka penduduk Dompu menuntut untuk berdirinya kembali Kerajaan Dompu dan dengan besluit Resident Timur tanggal 12 September 1947 No. lag, Kerajaan Dompu dinyatakan bangkit kembali dan Muhammad Tajul Arifin Sirajuddin diangkat selaku Sultan Dompu yang ke-29 (sultan terakhir).

7. Terbentuknya Negara Indonesia Timur (NIT) dengan UU NIT No. 44 tahun 1950, kerajaan ini berubah statusnya menjadi daerah Swapraja dan di Pulau Sumbawa dibuat Dewan raja-raja yang diketuai oleh Sultan Sumbawa, Muhammad Kaharuddin.

8. Dengan Undang-Undang No. 1 tahun 1957 tentang Pokok Pokok Pemerintahan Daerah, dibentuk menjadi kawasan Swatantra Tk. II, kemudian Undang-Undang No. 69 tahun 1958 dibuat menjadi kawasan Kabupaten Tingkat II Dompu

Berikut pejabat-pejabat yang memegang kendali pemerintahan tercatat selaku berikut:

1. Muhammad Tajul Arifin Sirajudin, mulai 1 Desember 1958 dan berakhir tanggal 30 April 1960 dengan SK Menteri Dalam Negeri Nomor UP-7/14/35 tanggal 2 Oktober 1958. 

2. H.A Rahman Mahmud, mulai tanggal 30 April 1960. Berakhir tanggal 30 November 1966 dengan SK Menteri Nomor UP.7/7/5/862 tanggal 18 Maret 1960.

3. I Gusti Ngurah BA., mulai tanggal 30 November 1966, dan rampung tanggal 11 Agustus 1967 dengan SK Menteri Dalam Negeri No.UP.14/18/370172 tanggal 24 September 1966,

4. Suwarno Atmojo, mulai tanggal 11 Agustus 1967 dan berakhir tanggal 24 September 1979 dengan SK Menteri Dalam Negeri Nomor UP.9/2/17/1129 tanggal 18 Juni 1967.

5. Heroe Soegijo, mulai tanggal 24 September 1979, dan rampung 24 Agustus 1984 dengan SK Menteri Dalam Negeri No. Pem. 7/20/4/0576 tanggal 22 September 1979. 

6. H. Moh. Yakub MT., mulai tanggal 29 September 1984.

Nilai-nilai budaya yang terpendam pada kala lampau, digali kembali, diangkat dan dihidangkan kembali sebagai sajian untuk menambah khasanah budaya nasional, karena memang selama ini belum pernah menjadi pengetahuan orang banyak.





Referensi :

Israil M. Saleh, Sekitar Kerajaan Dompu,2020, buku litera, Yogyakarta h. . . . . .313


Sumber https://www.mooreyi.com/

Rabu, 17 Maret 2021

Daftar Nama Bupati Dompu Beserta Gambar Fotonya

Daftar Nama Bupati Dompu

Berikut Daftar Nama nama Bupati Dompu mulai Bupati Dompu pertama hingga sekarang:

1. Muhammad Tajul Arifin Sirajudin, mulai 1 Desember 1958 dan selsai tanggal 30 April 1960 dengan SK Menteri Dalam Negeri Nomor UP-7/14/35 tanggal 2 Oktober 1958. 

2. H.A Rahman Mahmud, mulai tanggal 30 April 1960. Berakhir tanggal 30 November 1966 dengan SK Menteri Nomor UP.7/7/5/862 tanggal 18 Maret 1960.

3. Suwarno Atmojo, mulai tanggal 11 Agustus 1967 dan rampung tanggal 24 September 1979 dengan SK Menteri Dalam Negeri Nomor UP.9/2/17/1129 tanggal 18 Juni 1967.

4. Heroe Soegijo, mulai tanggal 24 September 1979, dan selsai 24 Agustus 1984 dengan SK Menteri Dalam Negeri No. Pem. 7/20/4/0576 tanggal 22 September 1979. 

5. H. Moh. Yakub MT., mulai tanggal 29 September 1984.


6. Drs. H. Umar Yusuf 1989 - 1994

7. Drs. H. Hidayat Ali 1994 - 1999

8. H. Abubakar Ahmad S.H. 2000 - 2005

(8) H. Abubakar Ahmad S.H. 9 Agustus 2005 - 30 Juli 2007

9. H. Syaifurrahman Salman S.E. 30 Juli 2007 - 9 Agustus 2010

10. H. Bambang M. Yasin 18 Oktober 2010 - 18 Oktober 2015

(10) H. Bambang M. Yasin 17 Februari 2016 - 2021

11. Abdul Kader Jaelani 27 Februari 2021 - kini

Bupati Dompu berkediaman di pendapa kabupaten Dompu dengan kurun jabatan 5 tahun

Sejarah singkat tentang Bupati Dompu

Kabupaten Dompu, sebelumnya merupakan tempat swapraja tingkat ii dari bab provinsi sunda kecil. Setelah pengakuan kedaulatan republik indonesia dan mengalami berulang kali proses perubahan metode ketatanegaraan pasca diproklamasikannya kemerdekaan republik indonesia, barulah terbentuk tempat swatantra tingkat ii Dompu. Kemudian, secara resmi mendapat status selaku tempat swapraja sejak tanggal 12 september 1947 dan berikutnya diangkat sultan Dompu terakhir yaitu sultan muhammad tajul arifin siradjuddin sebagai kepala daerah swaparaja Dompu. Tahun 1958 kawasan swapraja Dompu berganti status menjadi tempat swatantra tingkat ii Dompu dengan Bupati kepala daerah sultan Dompu muhammad tajul arifin siradjuddin (1958 – 1960).

Selanjutnya pada tahun 1960 hingga 1966, Dompu berganti status menjadi Daerah Tingkat IIDompu dengan Bupati h.abdurrahman mahmud. Pada tahun 1967 (dalam periode waktu kurang dari satu tahun) jabatan Bupati kepala Daerah Tingkat IIDompu dijabat oleh pelaksana peran (pjs) ialah i gusti ngurah.

Tahun 1967 sampai 1979, selama dua kurun, Kabupaten Dompu dipimpin oleh seorang perwira menengah tni angkatan darat ialah letkol. Tni. H. Suwarno atmojo. Selanjutnya pada tahun 1979 hingga 1984, Kabupaten Daerah Tingkat IIDompu kembali dipimpin oleh perwira menengah tni angkatan darat yakni letkol. Tni. H. Heru sugiyo.

Sejak tahun 1984, Kabupaten Daerah Tingkat IIDompu kembali dipimpin oleh seorang putra terbaik tempat yakni Drs. H. Moh.yakub, mt (1984-1989). Tahun 1989 hingga 1994, Drs. H. Umar yusuf memimpin Kabupaten Daerah Tingkat IIDompu, berikutnya pada tahun 1994 hingga 1999, kepemimpinan di bumi nggahi rawi pahu Dompu dilanjutkan oleh Drs. H. Hidayat ali.

Pada tahun 1999, seperti tempat-kawasan lain di wilayah negara kesatuan republik indonesia, seiring dengan periode reformasi, Kabupaten Daerah Tingkat II Dompu berganti status menjadi daerah otonom hingga sekarang ini. Sejak ditinggalkan Drs. H. Hidayat Ali sebagai Bupati kepala Daerah Tingkat IIDompu, jabatan Bupati Dompu saat itu lowong dan diisi oleh pejabat sementara selama satu tahun yakni Drs. H. Lalu djafar suryadi (1999-2000). Pejabat sementara Bupati mengemban tugas penting, salah satunya yakni menghantarkan penduduk Dompu untuk kembali memilih Bupati definitif lewat penyeleksian para wakil-wakil rakyat yang duduk di forum legislatif dprd kab. Daerah Tingkat IIDompu ketika itu.

Bulan februari tahun 2000, hasil pemilihan kepala Daerah Tingkat II Dompu lewat lembaga legislatif, risikonya ditetapkan H. Abubakar Ahmad, SH sebagai Bupati Kabupaten Dompu untuk era tahun 2000 sampai 2005. Waktu terus berlangsung seiring kemajuan kehidupan masyarakat di dana Dompu, tanggal 23 bulan maret tahun 2005, jabatan H. Abubakar Ahmad, SH selaku Bupati Kabupaten Dompu rampung. Selanjutnya, sambil menanti pemilihan eksklusif Bupati dan wakil Bupati Dompu, jabatan Bupati Dompu ketika itu di jabat sementara oleh kepala dinas peternakan provinsi NTB drh. H. Abdul Mutholib. Kurang dari 6 bulan, H. Abdul Mutholib mengatur roda pemerintahan di Kabupaten Dompu sekaligus menghantarkan penduduk Dompu melaksanakan pemilihan kepala kawasan (pilkada) secara langsung untuk yang pertama kalinya.

Tanggal 9 agustus 2005, H. Abubakar Ahmad, SH kembali memimpin Kabupaten Dompu untuk kurun ke- dua berpasangan dengan H. Syaifurrahman Salman, SE. H. Abubakar Ahmad, SH dan H. Syaifurrahman Salman, ialah pasangan Bupati dan wakil Bupati Dompu pertama yang diseleksi secara pribadi oleh masyarakat Bumi Nggahi Rawi Pahu. Waktu terus berlangsung, lembaran demi lembaran sejarah terus menoreh seiring perjalanan kehidupan masyarakat Kabupaten Dompu. Bulan juli tahun 2007, Bupati Dompu H. Abubakar Ahmad, SH meletakkan jabatannya sebagai Bupati Dompu, berikutnya pada tanggal 31 juli tahun 2007, Wakil Bupati Dompu H. Syaifurrahman Salman, SE dilantik selaku Bupati Dompu menggantikan H. Abubakar Ahmad, SH, hingga kurun final jabatannya pada bulan Agustus Tahun 2010. Dalam menghadapi pemilukada eksklusif yang ke-II, Kabupaten Dompu dipimpin oleh H. Nasibun sebagai penjabat sementara yaitu tanggal 9 Agustus 2010 hingga dengan pengambilan sumpah jabatan Drs. H. Bambang M.Yasin dan Ir. H. Syamsuddin.MM, sebagai Bupati Dompu dan wakil Bupati Dompu untuk kala 2010 – 2015 pada tanggal 18 oktober 2010.

Pemilukada berbarengan pada Rabu, 9 Desember 2015 Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati H. Bambang M. Yasin dan Arifuddin SH meraih bunyi terbanyak, dan pada 17 Februari 2016 dilantik secara resmi oleh Gubernur Provinsi NTB sebagai Bupati dan Wakil Bupati Dompu Periode 2016 – 2021


Pada periode pemerintahan Bupati Dompu Drs. H. Umar yusuf, pembahasan mengenai penetapan hari jadi Dompu mulai digulirkan. Pada abad pemerintahan Bupati Dompu H. Abubakar Ahmad, SH (kala pertama), pencarian ihwal hari jadi Dompu kembali dibahas oleh tim dan DPRD Kabupaten Dompu. Setelah lewat perjuangan yang cukup panjang serta pinjaman dari salah seorang pakar sejarah nasional kelahiran Dompu adalah Prof. Dr. Helyus Syamsuddin, Phd guru besar sejarah pada IKIP Bandung, akhirnya hari jadi Dompu mampu disepakati dan ditetapkan lewat keputusan DPRD Kabupaten Dompu yang selanjutnya dituangkan lewat peraturan tempat (Peraturan Daerah) Kabupaten Dompu nomor : 18 tanggal 19 bulan Juni Tahun 2004 menetapkan hari jadi Dompu jatuh pada hari selasa tanggal 11 april tahun 1815 atau bertepatan dengan tahun islam 1 Jumadil permulaan tahun 1230 h.

Penetapan hari jadi Dompu yang jatuh pada tanggal 11 april 1815, dilatar belakangi oleh fenomena alam yaitu kejadian meletusnya gunung tertinggi di pulau Sumbawa yaitu gunung Tambora pada tahun 1815. Sejarah mencatat, ketika gunung Tambora meletus dengan dahsyatnya pada tanggal 11 april 1815, 3 (tiga) kerajaan di sekitar gunung tambora yakni kerajaan pekat, sanggar dan tambora musnah akhir letusan gunung tambora. Setelah sekian tahun berlalu, bekas kerajaan pekat dan tambora alhasil bergabung menjadi satu dengan kesultanan Dompu, sementara kerajaan sanggar bergabung dengan wilayah kesultanan bima.

Sejak ditetapkannya tanggal 11 april selaku hari jadi Dompu, maka selanjutnya setiap tanggal 11 april, pemerintah dan seluruh masyarakat bumi nggahi rawi pahu melaksanakan upacara peringatan hari jadi Dompu.





Referensi 

Dompukab.go.id







Sumber https://www.mooreyi.com/