Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Maret 2021

Zaman Penjajahan Belanda Di Dompu

Kesultanan Dompu mengalami zaman penjajahan Belanda diperkirakan hampir selama tiga abad  Zaman Penjajahan Belanda di Dompu


Kerajaan/Kesultanan Dompu mengalami zaman penjajahan Belanda diperkirakan hampir selama tiga periode (sekitar 270 tahun). Hal itu berawal saat Dompu ditaklukkan oleh kerajaan kembar Goa - Tallo (Makassar) pada sekitar tahun 1618 atau pada saat masa pemerintahaan raja Goa ke-14 adalah Sultan Alauddin. Selanjutnya sekitar periode ke-16 atau pada kala pemerintahaan Sultan Hasanuddin (Raja Sultan Goa) menandatangani persetujuanBungaya pada tanggal 18 November 1667 dengan Spelman (Belanda), maka Dompu yang ketika itu menjadi bagian dari kekuasaan wilayah Kerajaan Goa secara otomatis masuk dalam kawasan jajahan pemerintah Kolonial Hindia Belanda,

Pada tahun 1669, diadakan perjanjian antara Dompu dengan pihak VOC (Belanda), saat itu Dompu dipimpin oleh Sultan Muhammad Siradjuddin (Ma Nuru Kupang). Sejak ketika itu pulau Sumbawa masuk dalam wilayah kekuasaan jajahan VOC. Selanjutnya pada tahun 1673, VOC mendaratkan pasukan perangnya di bawah komando Kapten J.F. Holsteyner. Waktu terus berlangsung, VOC terus melebarkan sayap daerah jajahannya di pulau Sumbawa, monopoli jual beli dikuasai sarat oleh VOC, ibarat ladang empuk bagi VOC untuk menguasai pulau Sumbawa ketika itu. Pada tanggal 13 September 1701 VOC hasilnya memaksa Raja Bima, Dompu, Tambora, Pekat dan Kerajaan Sanggar untuk kembali menanda tangani sebuah kontrakyang intinya bahwa kawasan kerajaan-kerajaan yang berada di Pulau Sumbawa tersebut menjadi kawasan jajahan pihak VOC. 

Meskipun para pimpinan kerajaan sudah menanda tangani peranan dengan pihak Belanda, tetapi rakyat di kerajaan kerajaan tersebut termasuk rakyat di kerajaan Dompu terus berupaya menentang pihak Belanda dengan melakukan banyak sekali perlawanan ala kadarnya Sekitar tahun 1718-1728, rakyat Dompu di bawah komando Daeng Talola melakukan perlawanan terhadap Belanda, dimana Dompu dikala itu di bawah pimpinan Sultan Syamsuddin yang bergelar (Mawa a Sampela). Tahun 1728, Daeng Talola ditangkap belanda dan kesudahannya di hukum mati.

Akibat banyaknya perlawanan oleh sebagian kelompok masya rakat saat itu, maka setiap perubahan Raja/Sultan di seluruh wilayah kerajaan-kerajaan yang ada di pulau Sumbawa, dan juga di Makassar Belanda selalu melakukan intervensi. Setiap pergeseran Raja Sultan Belanda selalu memperbaharui persetujuan, tidak itu saja, Belanda bahkan mulai mengadu domba antara rakyat dengan Raja/Sultan, begitu juga antara Kerajaan dengan Kerajaan yang lain. Tahun 1771. Belanda mulai terperinci-terangan mengadu domba antara Kerajaan Dompu dengan Kerajaan Bima, lalu sekitar tahun 1779, Belanda mengadu domba antara kerajaan Dompu dengan Kerajaan Tambora, dan pada tahun 1788 Kerajaan Dompu di mencerai-beraikan oleh Belanda dengan Kerajaan Sumbawa

Belanda terus melancarkan berbagai seni manajemen untuk tetap berkuasa di kawasan pulau Sumbawa, bahkan pajak rakyat yang sebaiknya di setor ke Kerajaan, maka mesti disetor pula ke pihak Belanda. Melihat keadaan mirip, dimana rakyat mulai sengsara akhir ulah para kum penjajah akibatnya membangkitkan kesadaran para Raja Sultan dikala itu melaksanakan perlawanan secara terperinci-terangan kepada Belanda Rayat dan pemerintah kerajaan bersatu padu untuk melawan kaum penjajah Timbulah perlawanan pemberontakan sengit antara Kerajaan Kerajaan di kawasan pulau Sumbawa untuk melawan penjajah Belanda Tahun 1907-1908 contohnya, terjadi peristiwa pertempuransengit antara Belanda dengan Kerajaan Sumbawa yang diketahui dengan Perang Undru, Perang Donggo (1908-1909), Perang Ngali-Dena (1908) dan lain sebagaiannya.

Pada tahun 1942, Belanda telah makin terjepit dengan adanya perlawanan dari kerajaan-kerajaan yang ada di daerah Pulau Sumbawa. Tahun 1942, kebencian rakyat Dompu mulai memuncak, hal itu terbukti dengan terjadinya peristiwa penangkapan beberapa serdadu Belanda oleh rakyat Dompu dan Bima yang dikala itu dipimpin oleh H.Mahmud Kasyimir pada tanggal 5 mei tahun 1942.

Peristiwa tersebut sepertinya membuat Belanda kebakaran jenggot, Belanda memuncak amarahnya dan alhasil dikerjakan serangan balasan secara besar-besaran oleh pihak Belanda di daerah Soriutu Dompu dimana dikala itu Belanda menerima santunan bala prajurit Belanda yang bercokol di wilayah Sumbawa untuk menggempur Dompu secara membabi buta. Peristiwa perang Soriutu antara Belanda dengan Rakyat Dompu dikenal dengan insiden perang Manggelewa. Pada peperangan di Soriutu, rakyat Dompu dan Bima bersatu bertempur dengan gagah berani melawan Belanda. Ketika pertempuran Soriutu berjalan, dikerjakan pengerahan abad besar-besaran oleh Jeneli Dompu M. Saleh dan jeneli Kempo Abdullah Daeng Tanga.

Akhir tahun 1942, Belanda menuntaskan kekuasaannya di daerah Dompu, Bima dan Sumbawa serentak dengan masuknya Jepang ke kawasan pulau Sumbawa. Saat itu kedatangan Jepang sungguh di harapkan oleh seluruh rakyat yang ada di kawasan pulau Sumbawa karena dengan kedatangan Jepang diperlukan dapat menolong memulihkan kondisi rakyat pasca pendudukan serdadu Belanda yang sudah ratusan tahun bercokol dan menyengsarakan rakyat di kawasan pulau Sumbawa.  


Beberapa catatan penting yang terjadi di Dompu saat penjajahan VOC/Belanda

- Perjanjian Bungaya (Belanda Sultan Hasanuddin/Raja Goa Makassar) pada tanggal 18 November 1667 dimana dalam perjanjian tersebut di antaranya Dompu takluk terhadap Belanda.

 - Tahun 1669, diadakan kontrakantara VOC dengan Sultan Syamsuddin Dompu di Benteng Rotterdam Makassar. 

- Tahun 1673, Belanda mendaratkan pasukannya di pulau Sumbawa.

- Tanggal 13 September Tahun 1701 Raja-raja di pulau Sumbawa yaitu Kerajaan Sumbawa, Bima, Dompu menandatangani perjanjian di Makassar

- Tahun 1718-1727 terjadi pemberontakan di Dompu yang dipimpin oleh Daeng Talola, ketika itu Dompu dipimpin oleh Sultan Syamsuddin.

- Tahun 1727, Sultan Syamsuddin mengikuti konferensi dengan Belanda di Jawa Timur dan di ikuti oleh beberapa Ulama dan tokoh Agama dari pulau Jawa.

- Tahun 1748, terjadi perang antara kerajaan Dompu dengan kerajaan Tambora. Sultan Dompu yaitu Sultan Abdurahman gugur di kawasan Kempo dalam peperangan perebutan perbatasan tersebut sehingga ia di beri gelar Sultan Ma Nuru Kempo.

- Tahun 1771, terjadi perang antara kerajaan Bima dengan Dompu 

- Tanggal 21 Oktober tahun 1882, Muhammad Siradjuddin (manuru kupa) di angkat selaku Sultan Dompu.

- Tahun 1934, Sultan Muhammad Siradjuddin diasingkan Belanda ke Kupang NTT bersama kedua putranya yakni Abdul Wahab dan Abdullah

- Tahun 1934 - 1947, Kesultanan Dompu kosong/tidak ada Sultan yang memerintah di Dompu. Selanjutnya Dompu dikala itu bergabung dengan Kesultanan Bima selama hampir 12 tahun. 

- Tahun 1937, Sultan Muhammad Siradjuddin wafat dan diberi gelar Sultan Ma Nuru Kupang 

- Tanggal 11 Mei 1942, Jepang mendarat di Bima dan Dompu. Di Dompu terjadi perlawanan antara rakyat Dompu dengan Jepang di Soriutu bersahabat jembatan Kampaja,

- Tahun 1947, terbentuk Negara Indonesia Timur (NIT), Belanda menghidupkan kembali membangkitkan Kesultanan Dompu dengan surat keputusan Residen Timur nomor I a tanggal 12 September 1947 dimana MT. Arifin Siradjuddin putra Abdul Wabab (Ruma To i) selaku Sultan Dompu. Dompu bangkit sendiri dan lepas dari Kesultanan Bima. Sultan MT.Arifin Siradjuddin wafat pada tanggal 12 September 1963 di Dompu.


SO MANGGE KALO, BUKTI SEJARAH YANG TAK TERLUPAKAN.

"Sultan Yakub Hijrah Ke Mpuri Lewat SO Mangge Kalo"

SO MANGGE KALO yang terletak di kampung Pelita Kelurahan Bada Kecamatan Dompu ialah merupakan areal persawahan masyarakatdengan luas sekitar 85 hektar dengan di kelilingi deretan bukit-bukit yang memanjang disebelah timur laksana pagar alam yang membentang mengelilingi Bumi Nggahi Rawi Pahu Dompu. SO MANGGE KALO yang di pagari dengan deretan bukit itu memiliki batas langsung dengan kawasan Kecamatan Mada Pangga Kabupaten Bima, dimana tepatnya di balik bukit (BUKIT TEKA ATI) terdapat beberapa Desa diantaranya Desa Tonda, Desa Mpuri dan Desa Woro Kecamatan Mada Pangga Bima.

Di lokasi Mangge Kalo terdapat ajaran sungai yang oleh warga setempat dinamakan Sungai LEMBO (SORI LEMBO). Sori Lembo bagi penduduk Dompu sangat besar nilai historisnya selaku saksi serta bukti sejarah di masa lampau. Di sungai tersebut terdapat sebuah bangunan Cek Dam yang di bangun semenjak zaman VOC, sekarang Cek Dam itu sendiri telah direnovasi oleh Pemkab Dompu selaku salah satu sumber air bagi para petani di sekeliling SO Mangge Kalo. Menurut Cerita sejarah yang ada di Dompu, So Mangge Kalo pada jaman kala pemerintahan sultan dompu yang ke-24 ialah Sultan Yakub itu merupakan tempat atau lokasi petilasan dimana dikala sultan Yakub menjalani kala pembuangan politik oleh pemerintah VOC, di Mangge Kalo itulah Sultan Yakub pernah melintasi areal tersebut menuju Negeri Mpuri (Bima) dengan melalui bukit yang dinamakan Bukit"TEKA ATI". Sultan Yakub oleh pemerintahan VOC ketika itu diasingkan ke Mpuri yang masuk dalam kawasan kesultan Bima, secara geogarfis lokasi So Mangge Kalo ialah lokasi jalan pintas (potong kompas menuju Bima), begitu naik melintas bukit TEKA ATI (Tanjakan Ati) maka dibawah bukit tepatnya di balik bukit akan terlihat perkampungan masyarakatdan di antaranya terdapat desa Mpuri daerah kabupaten Bima.

Sultan Yakub yang ketika itu telah berusia tua kesudahannya menetap dan wafat di desa Mpuri bareng dengan beberapa kerabat Sultan lainya. Sultan Yakub diasingkan atau dibuang oleh pemerintahan VOC ke Mpuri karena politik pemerintahan penjajah saat itu. Melihat latar belakang sejarah atau peristiwa tersebut, maka dapat sedikit ditarik satu kesimpulan bahwa masyarakat desa Mpuri ada kaitan atau relasi yang sangat akrab dengan pihak kesultanan Dompu,alasannya adalah konon dongeng para pengikut Sultan Yakub sebagian tidak kembali ke dompu tetapi mereka akibatnya menikah dan menetap di Mpuri begitu Sultan wafat. Hal itu juga diperkuat dengan penuturan isteri dari sultan Dompu terakhir MT.Sirajuddin ialah HJ.Siti Hadijah (Ruma Siwe) Kepada penulis dikediamannya komplek ASI Dompu beberapa waktu lalu. Ruma Siwe mengatakan bahwa sebagian masyarakat desa Mpuri itu ada kaitan atau hubungan darah dengan pihak kesultanan Dompu jika menengok kebelakang dari insiden hijrahnya Sultan Yakub karena pembuangan politik pemerintah penjajah waktu itu. Bahkan hingga dikala ini makam Sultan Yakub masih ada dan terawat di Desa Mpuri tersebut, oleh warga setempat makam tersebut di kenal dengan istilah RADE NDUPA  

Salah seorang budayawan sekaligus tokoh penduduk Dompu H. Nurdin Umar kepada penulis menuturkan, sultan Yakub yang diasingkan oleh pemerintahan penjajah ketika itu ibarat "SENATORIUM "dimana sultan Yakub saat itu tengah megalami sakit sehingga pihak pemerintah penjajah membuat kebijakan sementara untuk mengisti rahatkan Sultan Yakub di suatu kawasan khusus yaitu di dusun Mpuri. H.Nurdin Umar juga sependapat kalau penduduk Mpuri itu masih ada korelasi darah dengan masyarakat Dompu alasannya adalah dikala Sultan Yakub diasingkan ke Negeri Mpuri beserta para kerabat dan keluarganya itu sebagian dari saudara akrab sultan banyak yang menetap dan menikah di Mpuri sampai beranak cucu. "Contohnya sebagian warga kelurahan potu ini nenek moyangnya juga berasal dari tempat Dena dan Mpuri, "Papar H.Nurdin Umar kepada penulis dikediamanya di kelurahan Potu kecamatan Dompu beberapa waktu lalu.

Mengenai lokasi SO MANGGE KALO berdasarkan H.Nurdin Umar, pada sekitar tahun 1981 yang kemudian dilokasi tersebut pernah ditemukan sebuah KAPAK BATU peninggalan zaman dahulu dan dikala ini barang tersebut disimpan di musium Negeri Mataram NTB. Lokasi SOO MANGGE KALO dulu merupakan lokasi pemukiman masyarakatjaman antik bahkan jauh sebelum adanya tatanan kehidupan pemerintah mirip adanya kerajaan. Mantan Bupati Dompu H.Abubakar Ahmad, SH pernah menyatakan bahwa, lokasi SO MANGGE KALO itu merupakan salah satu bukti dan saksi sejarah yang tidak mampu di bohongi alasannya lokasi tersebut merupakan sejarah bagi penduduk Dompu itu sendiri.





Source: H. R. M. Agoes soeryanto, Sejarah Kabupaten Dompu, pemerintah Kabupaten Dompu tahun 2013.




Sumber https://www.mooreyi.com/

Sabtu, 06 Maret 2021

Dompu Pada Masa Penjajahan Jepang

Masa pendudukan Jepang di Dompu berlangsung tahun  Dompu Pada Masa Penjajahan Jepang


Masa pendudukan Jepang di Dompu berlangsung tahun 1942 - 1945, atau sekitar bulan Mei 1942 hingga dengan bulan Agustus 1945. Kedatangan Jepang ke pulau Sumbawa sangat di tunggu oleh rakyat Dompu dan pulau Sumbawa pada ketika itu, dengan impian kedatangan pasukan Nipon tersebut dapat membantu masyarakat setelah penjajahan Belanda yang sudah berjalan ratusan tahun tersebut, namun kenyataannya impian itu tinggal mimpi belaka, bukan Dewa penolong yang datang, justru malah dengan kehadiran pemerintah Dai Nipon (Jepang), kehidupan rakyat tambah sengsara.

Pada ketika Jepang berkuasa di kawasan Dompu, Dompu ketika itu masuk dalam kawasan kekuasaan kerajaan Bima. Hal itu diperkuat dengan adanya perjanjian antara Jepang dengan Kerajaan Bima pada tanggal 11 Mei 1942 dimana isi daripada kontraktersebut menyata kan bahwa: "Kerajaan Dompu masuk dalam wilayah kerajaan Bima". Menurut beberapa sumber sejarah di Dompu, surat kesepakatantersebut dibuat dalam kondisi tekanan dari pihak pemerintah Dai Nipon Jepang. Surat persetujuanyang ditanda tangani pada 5 September 1942 itu ditanda tangani oleh M.Tajul Arifin, Jeneli Dompu M.Saleh Abdullah, Jeneli Kempo, Rati Rasa NaE, Rato Renda Dompu, Gelarang Katua dan Gelarang Ranggo

Setelah kontrakditanda tangani, maka berikutnya Sultan Bima mengangkat M.Amin Daeng Emo menjadi Jeneli Dompu dan M.Nur Amin sebagai Jeneli Kempo. Sementara MT.Arifin Siradjuddin diang kat selaku Tureli Dompu dan Abdullah Daeng Tenga diangkat menjadi Tureli Adu. Dalam melaksanakan roda pemerintahaan di Bima dan Dompu, para petinggi kawasan (Bima/Dompu) senantiasa mendapat campur tangan dari pihak Jepang selaku pemerintah penjajah Mulai saat itu rakyat Dompu dan Bima tidak simpatik lagi terhadap pemerintah Dai Nipon. Jepang mulai membentuk pasukan tentara pribumi dengan merekrut para cowok yang selanjutnya dilatih militer.

Tahun 1943, Jepang sepertinya mulai terdesak oleh pasukan Sekutu, maka pemerintah Dai Nipon mulai mengumbar kesepakatan-kesepakatan kepada masyarakatpribumi auntuk mengikat hati rakyat. Untuk menda patkan tenaga atau pasukan perang yang berpengalaman, Jepang selanjutnya membentuk Perwira Pembela Tanah Air (PETA) dimana anggota PETA tersebut berisikan para cowok dan tokoh-tokoh penduduk pribumi. Menurut catatan sejarah di Dompu menyebutkan, tokoh-tokoh PETA di Dompu antara lain yaitu: Abdurahman H. Ahmad, Bahnan Daeng Situru. Muhammad Jabir, Ibrahim Singke dan lain-lain. Selain itu, untuk lebih memikat hati rakyat Dompu, Jepang merekrut pula beberapa tokoh cowok untuk dididik menjadi prajurit khusus Haiho (Rikugen Hei), lalu pegawai pemerintah Dai Nipon dilatih khusus untuk menjadi pasukan berani mati (Tei seinendan).

Pada tanggal 16 Juni tahun 1945, Pemerintah Dai Nipon mengadakan sidang di Singaraja Bali dan dihadiri oleh Bung Karno, sedangkan dari Dompu diwakili oleh M. Amin Daeng Emo. Bima diwakili oleh M.Idris Djafar dan dari Sumbawa diwakili oleh Lalu Abdul Wahab

Tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia memproklamirkan Kemer dekaannya. Berita proklamasi ini gres dimengerti di kawasan pulau lombok dan pulau Sumbawa (NTB) sekitar permulaan September 1945, sedangkan pada tanggal 18 Agustus 1945 atau sehabis sehari proklamasi kemerdekaan, di Mataram (Lombok) pihak Jepang telah menyerahkan kekuasaan kepada pihak Indonesia .

Goa Jepang, bukti peninggalan pemerintah Dai Nipon di Dompu

Selain populer dengan gelombang pantai La Key, ternyata di kawasan Kecamatan Hu'u Kabupaten Dompu juga diketahui dengan obyek wisata sejarah, baik sejarah peninggalan purbakala maupun peninggalan sejarah pada dikala abad penjajahan.

Disamping situs purbakala mirip situs Nangasia, Situs Batu Kadera (Kursi Raja), Situs Batu kubur dan lain sebagainya, ternyata di kawasan sepanjang pesisir pantai Hu'u terdapat peninggalan sejarah berupa Goa atau Bunker Eks. Tentara Jepang. Saat ini barangkali hanya monumen Goa Jepang saja yang diketahui oleh masyarakat dimana letaknya sekitar 1 km dari Jalan raya komplek perhotelan di La Key

Akhir tahun 2009, H. R. M. Agoes soeryanto bersama Dandim 1614/Dompu Letnan Kolonel Inf. Drs. Kusdiro dan beberapa tokoh masyarakat Dompu menjajal menyusuri beberapa jejak bekas Bunker Jepang yang berada di sekeliling lokasi Monumen Goa Jepang dan disekitar pantai La Key Hu'u. Sebelum menuju Monumen Goa Jepang, ternyata sekitar 100 meter dari jalan raya juga ditemukan beberapa lobang yang sudah tertutup tanah dan belukar, setelah di gali beberapa centi meter, didapatkan lobang yang diduga ialah Bunker eks. Tentara Jepang. Menurut Dandim 1614/Dompu Letnan Kolonel. Drs Kusdiro, Monumen Goa Jepang dahulu pada ketika periode penjajahan Tentara Jepang ialah kawasan atau bangunan yang berfungsi selaku Pos tinjau sekaligus ialah benteng pertahanan pasukan serdadu Jepang. 

Di sekitar Monumen Goa Jepang terdapat beberapa buah lobang yang ternyata ialah Bunker, namun saat ini kondisi bunker tersebut sudah tertutup longsoran tanah dan tertutup semak belukar.

Dari komplek Monumen Goa Jepang, penulis dan rombongan eksklusif melanjutkan perjalanan menuju pesisir pantai La Key sebelum tiba di pantai, ternyata banyak pula ditemukan beberapa bunker eks. Tentara Jepang di sepanjang jalan raya menuju Nangadoro Bunker-bunker tersebut berada di dalam lokasi kebun milik warga lokal. Bunkur yang yang dibuat dari kerikil kali dan semen itu kondisinya telah banyak yang rusak, bahkan ada beberapa lorong yang telah tertimbun longsoran tanah.

Sebelum tiba di pantai La key, ditemukan pula beberapa buah bunker yang tersebar di lahan-lahan milik warga bahkan di salah satu Pohon besar atau tepatnya di depan halaman salah satu Hotel di la Key, ternyata ditemukan pula Bunker yang kondisinya juga telah tertutup gundukan tanah dan pasir akibat kikisan atau ab rasi pantai. "Dulu di bawah pohon besar ini ada Bunker/Goa milik eks.tentara Jepang, "kata salah seorang tokoh sepuh di Hu'u. Batu kali yang dicampur adukan semen terlihat masih terlihat menempel di sebagian akar-akar pohon besar tersebut. "Kemungkinan dulu Goa/bunker ini berada di bawah pohon ini, tetapi alasannya terjadi pengikisan pantai, lama-usang tertutup gundukan pasir dan balasannya menutupi lobang Bunker, papar Dandim.

Diantara Bunker-bunker tersebut, ada salah satu Bunker yang sangat besar bahkan lobang pintu masuk menuju lorong masih utuh dan bisa di masuki orang. Anehnya Bunker tersebut berada di atas lahan milik warga dengan ketinggian bangunan sekitar 3 meter. Bangunan tersebut yang dibuat dari batu kali dan semen, bangunan bunker yang satu ini hampir utuh nyaris seratus porsen, cuma beberapa bangunan sudah longsor di bagian dinding luarnya. Sementara di langit-langit lorong bunker masih terdapat sisa-sisa kayu yang berfungsi sebagai penopang atap pada ketika mengecor atap Bunker. Didalam lorong ternyata sanga luas bahkan bila di masuki kendaraan beroda empat bisa masuk. 

Dandim 1614/Dompu Letnan Kolonel Inf. Drs. Kusdiro menyampaikan pihaknya sangat peduli terhadap peninggalan sejarah tersebut, dan ketika ini pihaknya berhubungan dengan Dinas Pariwisata Kab. Dompu bermaksud akan membuat jalan setapak menuju lokasi tersebut supaya mempermudah para hadirin melihat bunker-bunker eks tentara Jepang tersebut. "Ini adalah salah satu bukti sejarah yang dihentikan dibiarkan begitu saja, bunker ini memang milik tentara jepang selaku benteng pertahanan saat menjajah Indonesia terutama di wilayah Dompu. Yang memanfaatkan Bunker ini ialah tentara Jepang, tapi yang membuat atau pekerjanya ialah orang-orang kita (Orang Dompu-Red). Artinya ini juga ialah hasil karya para sesepuh atau pejuang-pejuang kita dahulu, Kewajiban kita untuk memelihara dan melestarikannya biar kelak generasi yang hendak dating dapat menikmati sekaligus bukti perjuangan bangsa kita melawan kaum penjajah," papar Dandim.

Abdurahman (90) alias Ahmad Komba, salah seorang warga Hu'u yang konon menjadi saksi saat pembuatan bunker oleh serdadu Jepang menuturkan, Jepang masuk Dompu lewat pantai di wilayah Hu'u.Saat prajurit Jepang masuk, mereka eksklusif menghimpun warga setempat untuk diajak kerja rodi menciptakan bunker selaku tempat atau benteng pertahanan prajurit Jepang. “Kita kerja siang malam, tidak di gaji cuma di kasih makan ala kadarnya, bahkan kadang-kadang tidak di kasih makan. Kita kerja terus siang malam di bawah pengawasan dengan todongan senjata serdadu jepang,"kata Abdurahman, yang juga masih fasih berbahasa Jepang ini.

Menurutnya, banyak warga setempat yang mati pada saat pengerjaan bunker-bunker tersebut, bahkan katanya, ada pula warga yang mati ketika kerja dan pribadi di timbun (di kubur) didalam bunker. Menurut Abdurahman, selain selaku daerah pertahanan persembunyian, bunker-bunker tersebut oleh prajurit Jepang juga dimanfaatkan untuk menyimpan logistik mereka, "Setelah Jepang mengalah oleh tentara Sekutu, menurut Abdurahman, ada beberapa bunker yang dimanfaatkan oleh Tentara Jepang untuk menimbun/ menyembunyikan senjata dan peralatan perang yang lain mirip pedang (Samurai) dan meriam serta beberapa barang berguna yang lain milik Tentara Jepang "Mungkin prajurit Jepang takut bila barang barang tersebut jatuh ke tangan musuh (Sekutu) atau takut diambil warga setempat. Tapi saya sudah agak lupa-lupa ingat kira-kira bunker mana yang dahulu digunakan untuk menyimpan barang-barang tersebut, "papar Abdurahman yang masih nampak sehat dan fasih berbahasa Jepang tersebut. 

Letnan Kolonel. Drs. Kusdiro (Dandim 1614/Dompu 2007 - 2011)

"Mengapa Jepang membangun Bunker di Hu'u"

Menurut Dandim 1614/Dompu Letnan Kolonel (Int) Drs. Kusdiro, alasan Jepang membangun Goa/Bunker di daerah Hu'u sebab kawasan tersebut dianggap selaku salah satu kawasan yang sangat strategis sebagai tempat pertahanan pihak militer Jepang.

Goa Jepang, yang terletak diatas ketinggian sekitar 200 meter dari permukaan maritim atau tepatnya berada di atas perbukitan/belakang daerah Hotel di La Key yang berhadapan dengan bahari lepas (maritim Australia) itu dari sisi pertahanan militer merupakan kawasan strategis dan sangat leluasa untuk mengawasi pihak musuh yang datang dari segala arah/penjuru. "Selain selaku pos tinjau, bunker goa Jepang itu juga berfungsi untuk daerah pertahanan Tentara sekaligus selaku daerah gudang penyimpanan logistik, "kata Dandim.

Lebih jauh Dandim memaparkan bahwa, Jepang menentukan Hu'u selaku basis pertahanan mereka (Tentara Jepang) hal itu tidak terlepas dari kajian strategi tempur pasukan Jepang sebelum memutuskan untuk menduduki wilayah Dompu lewat jalur Laut atau tepatnya di kawasan selatan Dompu. "Saat itu Laut ialah jalur utama pasukan Jepang untuk menguasai beberapa wilayah yang ada di Nusantara ini, "katanya.

Menurut evaluasi Letnan Kolonel. Kusdiro. pasukan tentara Jepang sebelum menduduki sebagian kawasan Nusantara, pihak Jepang telah menguasai peta jalur pendaratan wilayah. "Tentara Belanda di kalahka oleh Jepang, rahasia militer tergolong peta daerah otomatis bias dikuasai oleh Jepang. Menurut pendapat saya, Jepang sukses merebut peta wilayah dari pihak Belanda termasuk peta jalur pendaratan ke wilayah Dompu yaitu lewat jalur bahari tepatnya lewat daerah perairan Hu'u,"terperinci Letnan Kolonel. Kusdiro.

Lebih lanjut Dandim 1614/Dompu ini memaparkan, Belanda dapat menguasai peta jalur masuk ke beberapa daerah di Nusantara tergolong di Dompu itu dimungkinkan sebelumnya pihak Belanda sudah menguasai peta kawasan yang didapat dari beberapa Kerajaan di Nusantara ini. "Saya berpendapat bahwa, jalur daerah masuk Dompu lewat Hu'u itu mirip mengutip dari riwayat perjalanan prajurit Majapahit di bawah komando Mahapatih Gajah Mada ketika hendak menaklukkan kerajaan Dompo (Dompu). "Ingat, sejarah di Dompu mencatat bahwa pasukan Majapahit masuk atau menyerang Dompu melalui jalur selatan ialah daerah perairan Hu'u. Bisa juga Jepang masuk Dompu itu alasannya terinspirasi oleh ekspedisi pasukan Majapahit ketika hendak menaklukkan kerajaan Dompu,' terperinci Dandim.






Sumber https://www.mooreyi.com/

Kamis, 04 Maret 2021

Dompu Sesudah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia

 

Dompu Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia Dompu Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia

Tahun 1951-1956 berdasarkan UU NIT Nomor 44 Tahun 1950 Pulau Sumbawa pemerintahaannya disebut sebagai Daerah I Pulau yang mencakup 3 (tiga) tempat SWAPRAJA adalah Dompu, Bima dan Sumbawa. Dompu. secara resmi menerima status sebagai kawasan Swapraja sejak tanggal 12 September 1947 dan berikutnya diangkat Sultan Dompu terakhir (Sultan Muhammad Tajul Arifin Siradjuddin) selaku Kepala Daerah Swaparaja Dompu.

Secara resmi Daerah Swapraja Dompu menerima status Kabupaten semenjak tahun 1958, atau sejak dikeluarkannya Undang undang nomor 64 tahun 1958 dan Undang-undang nomor 69 tahun 1958. Sebelumnya, Dompu berstatus selaku tempat atau daerah Kesultanan adalah Kesultanan Dompu dengan Sultan terakhir yaitu M.Tajul Arifin Siradjuddin Tahun 1947, Kesultanan Dompu berubah status menjadi Daerah Swapraja, kemudian Daerah Swatantra Tingkat II Dompu lewat keputusan Menteri Dalam Negeri dengan surat keputusan tanggal 29 Oktober 1958 nomor Up.7/14/34 diangkatlah pejabat sementara (PS) Kepala Daerah Dompu MT.Arifin Siradjuddin selaku Bupati pertama di Dompu sampai tahun 1960. Saat itu wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) masih berstatus selaku wilayah propinsi Kepulauan Sunda Kecil (Nusa Tenggara)

Selanjutnya pada tahun 1960 hingga 1966, Dompu berubah status menjadi Daerah Tingkat II Dompu dengan Bupati H. Abdurrahman Mahmud sebagai Bupati Kepala Daerah tingkat II Dompu. Kemudian pada tahun 1967 jabatan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Dompu dijabat oleh pelaksana tugas (PJS) Bupati Kepala Daerah Tingkat II Dompu I Gusti Ngurah

Tahun 1967 hingga 1979, selama dua era. kabupaten Dompu di pimpin oleh seorang perwira menengah TNI Angkatan Darat yaitu Letnan Kolonel. TNI. H. Suwarno Atmojo. Selanjutnya pada tahun 1979 sampai 1984. Kabupaten Daerah Tingkat II Dompu kembali di pimpin oleh perwira menengah TNI angkatan Darat yakni Letkol. TNI. H. Heru Sugiyo

Sejak tahun 1984, Kabupaten Daerah Tingkat II Dompu kembali dipimpin oleh seorang putra terbaik kawasan ialah Drs. H. Moh. Yakub, MT (1984-1989). Tahun 1989 sampai 1994, putra terbaik tempat Dompu Drs. H. Umar Yusuf memimpin kabupaten Daerah Tingkat II Dompu, berikutnya pada tahun 1994 sampai 1999. kepemimpinan di Bumi Nggahi Rawi Pahu Dompu dilanjutkan oleh seorang putra terbaik Dompu ialah Drs. H. Hidayat Ali.

Pada tahun 1999, mirip kawasan-tempat lain di daerah negara Kesatuan Republik Indonesia, seiring dengan kala roformasi, Kabupaten Daerah Tingkat II Dompu berubah status menjadi Daerah Otonom sampai kini ini. Sejak ditinggalkan Drs. H. Hidayat Ali sebagai Bupati Kepala Daerah Tingkat II Dompu, jabatan Bupati Dompu dikala itu lowong dan di isi oleh pejabat sementara selama satu tahun yaitu Drs. H.Lalu Djafar Suryadi (1999-2000). Pejabat sementara bupati memiliki peran penting salah satunya adalah menghantarkan penduduk Dompu untuk kembali memilih Bupati definitif melalui penyeleksian para wakil-wakil rakyat yang duduk di lembaga legislatif DPRD Kab. Daerah Tingkat II Dompu dikala itu.

Bulan Februari tahun 2000, hasil penyeleksian Kepala Daerah Tingkat II Dompu melalui lembaga legislatif kesannya ditetapkan H.Abubakar Ahmad, SH selaku Bupati Kabupaten Dompu untuk periode tahun 2000 hingga 2005. Waktu terus berlangsung seiring kemajuan kehidupan penduduk di dana Dompu, tanggal 23 bulan Maret tahun 2005, Jabatan H. Abubakar Ahmad, SH sebagai Bupati Kabupaten Dompu berakhu, berikutnya. sambil menanti pemilihan langsung Bupati dan Wakil Bupati Dompu, jabatan Bupati Dompu saat itu di jabal sementara oleh kepala Dinas Peternakan Provinsi NTB drh. H. Abdul Mutholib M.M. Kurang dari 6 bulan. H. Abdul Mutholib mengendalikan roda pemerintahan di Kabupaten Dompu sekaligus menghantarkan masyarakat Dompu melaksanakan penyeleksian kepala daerah (Pilkada) secara eksklusif untuk yang pertama kalinya

Tanggal 9 Agustus tahun 2005, H. Abubakar Ahmad, SH kembali memimpin Kabupaten Dompu untuk kala kedua berpasangan dengan salah seorang tokoh muda di Dompu sebagai Wakil Bupati Dompu yaitu H. Syaifurrahman Salman, SE. 

H Abubakar Ahmad, SH dan H. Syaifurrahman Salman, merupakan pasangan Bupati dan Wakil Bupati Dompu pertama yang di pilih secara pribadi oleh masyarakat Bumi Nggahi Rawi Pahu. Waktu terus berlangsung. lembaran demi lembaran sejarah terus menoreh seiring perjalanan kehidupan masyarakat Kabupaten Dompu. Bulan Juli tahun 2007, Bupati Dompu H. Abubakar Ahmad, SH meletakkan jabatannya selaku Bupati Dompu, dan selanjutnya pada tanggal 31 Juli tahun 2007, Wakil Bupati Dompu H.Syaifurrahman Salman, SE dilantik sebagai Bupati Dompu menggantikan H. Abubakar Ahmad, sampai kala akhir jabatannya pada bulan Agustus tahun 2010. Selanjutnya pada tanggal 18 Oktober tahun 2010, Drs.H.Bambang M. Yasin dan Ir H Syamsuddin HM. Yasin MM, dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati Dompu kala 2010 - 2015.

Beberapa catatan penting yang terjadi di Dompu setelah Proklamasi Kemerdekaan

- Tanggal 13 September 1945 dibuat Panitia Khusus Persiapan Pembentukan Badan-Badan Kemerdekaan di Tente Bima. Hasil konferensi tersebut berikutnya di bawa ke Dompu oleh Abdullah M Amin dan Abubakar Djafar 

- Tanggal 14 september 1945, kedua utusan tersebut menemui Jeneli Dompu M. Amin daeng Emo, Jeneli kempo M Nur Amin serta para tokoh-tokoh pejuang di Dompu untuk membentuk Panitia Persiapan Badan-Badan Kemerdekaan Bulan September 1945 hingga Bulan Oktober 1945 dibentuk KNI Dompu. Badan Kelaskaran BKR TKR. Laskar API.

- Tanggal 30 Oktober 1945, diadakan Apel akbar Bendera Merah Putih dilapangan bola Karijawa Dompu sebagai unjuk kekuatan dari Laskar-laskar yang sudah dibuat tersebut

- Tanggal 22 November 1945, dibacakan maklumat dari Sultan Bima yang isinya antara lain menyebutkan bahwa: "Kesultanan Bima - Dompu bangun dibelakang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). (dikala itu Dompu masih berada dibawah kekuasaan Kesultanana Bima)

- Tanggal 19 Januari 1946, NICA mendarat di Dompu

- Tanggal 16 Juli 1946 diadakan konferensi Malino (Goa Sulawesi Selatan) yang dipimpin oleh DR. H.J. Van Mook, dimana pulau Sumbawa diwakili oleh Sultan Sumbawa yakni Sultan M. Kaharuddin. Dalam pertemuan tersebut di putuskan bahwa Indonesia berupa sebagai Negara Serikat (RIS).

- Tanggal 24 Desember 1946 terbentuk Negara Indonesia Timur (NIT) hasil konferensi di Denpasar Bali. Pulau bali, Pulau Lombok dan pulau Sumbawa masuk dalam daerah provinsi sunda Kecil (NTB). Hal itu tertuang dalam lembaran Hindia Belanda (stb. Nomor 143 tahun 1946).

- Tanggal 9 Januari 1947 keluar keputusan Pemerintah Kerajaan Bima perihal pembentukan Raad Bima-Dompu yang ialah Dewan penasehat serta anggotanya diangkat oleh pemerintah Kerajaan Bima. Tanggal 27 Februari 1947 terbentuk federasi Pulau Sumbawa di Sumbawa Besar dan pemerintahaan dilakukan oleh Dewan Raja-Raja federasi tersebut. 

- Tanggal 12 September 1947, MI Anfin Siradjuddin diangkat kembali selaku Sultan Dompu lewat keputusan Residen Timur Nomor. la wacana Kerajaan Dompu dipulihkan kembali sesudah sebelumnya sempat bergabung dengan pemerintahaan Kerajaan Kesultanan Bima

- Tanggal 23 Agustus 1948 Undang-Undang Federasi Pulau Sumbawa ditetapkan oleh dewan Raja Raja Pulau Sumbawa Tanggal 1 Januari 1949, Dewan Raja-Raja dig anti dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR-PS) Pulau Sumbawa dan Dewan Perwakilan Setempat (DPS).

- Tanggal 18 Januari 1949 dilantik anggota DPR-PS yang beranggotakan 21 orang. 8 orang wakil dari Bima, 6 Sumbawa dan 3 orang wakil dari Dompu serta 4 orang wakil dari kalangan minoritas.

- Tanggal 27 Desember 1949 pemulihan kekuasaan Negara Republik Indonesia hasil Konferensi Meja Bundar (KMB), bangkit Negara Republik Indonesia Serikat (RIS).

- Tanggal 29 Oktober 1958 Menteri dalam Negeri mengeluarkan keputusan nomor xx Up.7/14/34 wacana pengangkatan para PS.Kepala Daerah Swatantra tingkat II se-NTB. Untuk Dompu diangkat MT.Arifin Siradjuddin sebagai Kepala Daerali Swatantra Tingkat II Dompu.

- Tanggal 17 Desember 1958, untuk tingkat NTB diangkat Pejabat sementara selaku Kepala Daerah Swatantra Tingkat I NTB ialah R.Ar. Muhammad Ruslan Cakraningrat.





Sumber https://www.mooreyi.com/

Rabu, 03 Maret 2021

3 Kerajaan Di Lereng Gunung Tambora

 terdapat tiga kerajaan yang terletak di lereng gunung Tambora yaitu Sanggar 3 Kerajaan Di Lereng Gunung Tambora
Tambora


Sebelum meletusnya gunung Tambora, terdapat tiga kerajaan yang terletak di lereng gunung Tambora yaitu Sanggar, Tambora, Dan Papekat

Kerajaan Sanggar

Sanggar merupakan kerajaan kecil yang terletak disebelah barat bahari Dompu di sebelah timur kaki gunung Tambora. Pada tahun 1805 raja Sanggar meninggal dan digantikan oleh saudaranya ialah Ismail Ali Lujang, Pada kurun ke-XIX, sebelum Tambora meletus dengan dahsyatnya, penduduk dikala itu berjumlah sekitar dua ribu orang pada tahun 1808 dan berkembangmenjadi dua ribu dua ratus orang pada tahun 1815.

Ketika Tambora meletus pada bulan April 1815 sebagian besar penduduknya meninggal, dan tinggal dua ratus orang saja dan sebab diserang oleh perampok pada tahun 1818 mereka melarikan diri ke Banggo di Kerajaan Dompu, dan sebagaian ke Nggembe Bima. Dengan pemberian Gubernemen pada tahun 1830 mereka hasilnya kembali ke Sanggar. Gubernemen menunjukkan sumbangan beberapa sena pan dan amunisi untuk mempertahankan diri dari serangan musuh. Pada tahun 1837 masyarakatSanggar masih berjumlah sekitar tiga ratus tiga orang dan pada tahun 1847 berkembangmenjadi tiga ratus lima puluh orang atau jiwa. Rumah raja dibuat oleh rakyatnya sendiri dengan bahan dari kayu opsi secara gotong-royong. Raja dan para pembesar kerajaan ketika itu tidak di honor tetapi tanah-tanah mereka dilakukan oleh rakyatnya. Pada awal periode ke-XX atau sejak Belanda menguasai pulau Sumbawa secara pribadi, Kerajaan Sanggar di hapus serta digabungkan dengan kekuasaan Kesultanan Bima hingga sekarang ini.


Kerajaan Tambora

Kerajaan Tambora yang terletak pada suatu jazirah pada ketiga penjuru dibatasi oleh bahari. Di sebelah timur memiliki batas dengan Kerajaan Sanggar dan Kerajaan Dompu dengan luas areal daerah 459 pal persegi. Seluruh kerajaan berada di sekitar kaki gunung Tambora (Gunung Arun) Sebelum Tambora meletus, air telah sungguh kurang dan untuk menerima air minum penduduk saat itu menggali sumur di sekitar pantai. Rakyat Tambora hidup dari berladang atau bercocok tanam serta beternak dan meramu.

Ladang-ladang cukup dilembapi oleh embun dan karena itu mereka bertanam pada sekitar bulan Agustus dan panen pada bulan Desember. Kekayaan yang utama yakni ternak kuda dan hasil kayu hutan. Setengah dari hasil Gubernemen dan setengah dari kuda-kuda tersebut dikirim ke Kerajaan Bima pada tahun 1806 dan tahun 1807 berasal dari Tambora. Menurut Tobias, pada tahun 1808 Kerajaan Tambora berpenduduk sekitar empat ribu jiwa dan pada tahun 1815 atau setelah Tambora meletus penduduk kerajaan Tambora sebagian habis tewas sebanyak tiga puluh ribu jiwa lebih. Dan pada tahun 1816 sisa penduduk yang masih hidup kesannya meninggal semua alasannya adalah diterjang banjir bandang dan banjir lahar, berikutnya bekas Kerajaan Tambora yang telah habis ditelan ganasnya alam tersebut digabungkan dengan kawasan Kesultanan Dompu hingga sekarang ini. Bekas Kerajaan Tambora sekarang masuk dalam wilayah pemerintahaan Desa Tambora Kecamatan Pekat Dompu.


Kerajaan Papekat (Pekat)

Masa pemerintahan Kabupaten Dompu, nama Pekat dikala ini merupakan nama suatu Desa yang terletak di daerah kecamatan Pekat - Calabay Dompu (Nama Ibu Kota Kecamatan Pekat) Konon nama Pekat berasal dari kata "Pepekat ".

Kerajaan kecil ini tidak banyak meninggalkan atau menyimpan bukti-bukti untuk mendukung keberadaan kerajaan tersebut tempo dahulu bahkan hampir dibilang tidak ada sama sekali, cuma nama Pekat kini ialah nama suatu desa di tempat lereng gunung Tambora. Catatan sejarah menyebutkan, meskipun sebuah kerajaan kecil namun Pekat dikala itu terus diijinkan berdiri oleh pemerintah penjanjah VOC khususnya untuk membendung dampak dari Kerajaan Makassar yang sewaktu-waktu dapat membentuk kekuatan di situ. Maka dengan Pekat pihak VOC mengikat terus persahabatan yang baik sekali, tetapi akhir gunung Tambora meletus, akhirnya masyarakatdi Kerajaan Pekat musnah semuanya kemudian bekas kerajaan Pekat digabungkan dengan wilayah kekuasaan Kerajaan Dompu sampai sekarang ini


Sumber https://www.mooreyi.com/

Misteri Situs Waro Kali Dompu

 

WARO KALI yang pernah diteliti oleh Balai ARKELOGI Denpasar Bali pada bulan September tahu Misteri Situs Waro Kali Dompu

Situs purbakala 'WARO KALI yang pernah diteliti oleh Balai ARKELOGI Denpasar Bali pada bulan September tahun 2001 lalu itu sudah menerima kesimpulan bahwa lokasi atau situs tersebut merupakan bekas bangunan suatu candi tempat pemujaan pada ketika sebelum masuknya pemikiran islam ke Dompu. Situs Waro Kali yang teletak di lingkungan "DORO MPANA “Kelurahan Kandai I Dompu itu berupa gundukan tanah dengan luas sekitar 17 meter persegi atau tepatnya sekitar 1 kilo meter dengan lokasi situs Purbakala "DORO BATA ".

Tim arkeologi yang saat itu dipimpin oleh Wayan Suantika dengan anggota atau staf berisikan Anak Agung Gedhe Bagus, Ayu Ambarwati serta staf khusus penggambaran I Nyoman Putra dengan di Bantu oleh dua orang tim pembantu khusus itu menerangkan bahwa, sehabis dikerjakan observasi arkelogi Situs "WARO KALI "diperkirakan merupakan jenis bangunan Berundak (Bangunan Bata kawasan pemujaan di jaman kebudayaan Hindu Kuno. Menurut Wayan, berdasarkan hasil study banding yang pernah dikerjakan oleh tim arkeologi pada tahun 1989 bahwa, situs purbakala "DORO BATA "terdapat pecahan-belahan bata yang bentuknya maupun jenisnya ada persamaan dengan kepingan-potongan bata yang ada di situs Waro Kali.

Antara Situs "DORO BATA "dan situs "WARO KALI "disangka sungguh bersahabat kaitannya hal itu dapat dibuktikan dengan adanya beberapa benda purbakala yang pernah didapatkan oleh para warga masyarakatsekitar lokasi atau tepatnya sekitar tahun 1978 sampai tahun 1989 kemudian. Penemuan pertama kali kedua situs tersebut serentak dengan adanya observasi oleh tim arkelogi Jakarta yang tengah meneliti penemuan situs Islam di daerah kabupaten Bima dan Dompu sekitar tahun 1978. Pada saat penggalian situs "DORO BATA "itulah situs "WARO KALI "ditemukan oleh tim peneliti yang dipimpin oleh Prof. DR. Sukmono. Masih berdasarkan wayan Suantika, situs "WARO KALI"yang merupakan bangunan dengan struktur Bata itu ada kemiripan dengan situs purbakala yang didapatkan di daerah Sumatra Barat adalah MANOPO atau kawasan pemujaan di masa kerajaan Sriwijaya.

Selain ada kemiripan dengan situs Klasik di daerah Sumatera, situs "WARO KALI"dan Situs "DORO BATA"berdasarkan tim andal arkeologi itu diduga ada kemiripan atau kesamaan dengan struktur bangunan candi yang ada di daerah Jawa Tengah yaitu candi Borobudur. Di samping itu dari balai arkelogi dan Denpasar Bali tersebut, mengatakan bahwa pusat salah satu kerajaan di Dompu. Salah satu bukti pendukungnya yaitu dengan adanya bukit "DORO PARA PIMPI "yang teletak di sekeliling lokasi situs Waro Kali. "DORO PARA PIMPI "jikalau diartikan dalam bahasa tempat Dompu atau mbojo artinya yakni daerah atau lokasi konferensi para pimpinan (Raja) pada zaman dulu.

Bebagai sumber sejarah yang ada di Dompu menyebutkan bahwa, pada sekitar kurun ke 13, kerajaan Majapahit di pulau Jawa di bawah pimpinan Panglima perangnya yang cukup populer yaitu Maha PATIH GAJAH MADA SANG AMURWA BUMI tiba ke Dompo (Dompu) untuk menaklukan kerajaan tersebut. Seperti dalam sumpah palapanya bahwa salah satu kerajaan di seluruh Nusantara yang akan ditaklukan oleh Gajah Mada yakni kerajan Dompo (Dompu). Sejarah mencatat bahwa, dua kali Gajah Mada gagal menaklukan kerajaan Dompo yang dikala itu dikenal gat handal dan berpengaruh sekali. Kemudian sekitar 16 tahun lalu atau tepatnya sekitar tahun 1347 Maja Pahit kembali meyerang kerajaan Dompo sekaligus dapat menguasai serta menakluk kan kerajaan tersebut dengan pasukannya yang cukup handal apalagi saat itu Maja Pahit mendelegasikan salah seorang panglima perangnya yang juga ialah orang akidah Gajah Mada adalah Panglima Perang NALA. Konon cerita, sang maha patih gajah mada pada saat melaksanakan ekspedisi kerajaan Dompo dengan bala tentaranya masuk melalui kawasan pantai selatan didaerah Hu'u atau tepatnya sebelah selatan wilayah kerajaan DOMPO saat itu. Hal itu diperkuatdengan adanya bukti peninggalan sejarah yang bernama nama-nam desa yang mirip dengan nama-nama kerajaan besar kekuasaan Maja Pahit di Pulau Jawa seperti nama Desa "DAHA"yang saat ini ialah bagian dari wilayah Kecamatan Hu'u Kabupaten Dompu. Nama "DAHA "atau Desa ADU identik dengan nama-nama Kerajaan di Pulau Jawa atau tepatnya di daerah Jawa Timur. Bahkan berbagai sumber besar lengan berkuasa di Dompu menyebutkan bahwa,Desa Daha dulu ialah kawasan atau loksi markas Bala tentara Gajah Mada ketika hendak menyerang Kerajaan Dompu

Berbagai sumber sejarah di Dompu juga menyebutkan bahwa Gajah Mada memiliki relasi erat dengan Dompo (Kerajaan DOMPO). Cerita tersebut diperkuat dengan adanya sebuah bukit yang terletak di Desa Hu'u dimana di atas bukit tersebut terdapat kuburan bau tanah yang oleh masyarakatlokal di yakini selaku kuburan atau RADE LA LEMBO RO O FIKO artinya kuburan Si Manusia Bertelinga Besar mirip seperti pendengaran Gajah. Masih berdasarkan kisah dari masyarakatsetempat bahwa konon Gajah Mada itu merupakan sosok manusia yang berbadan tinggi besar serta mempunyai satu ciri Khas ialah manusia dengan pendengaran yang cukup besar, bahkan oleh penduduk lokal (Warga Desa Hu'u) Gajah Mada yang dalam sejarah Nasional itu diketahui dengan Sang Maha Patih Gajah Mada dari kerajaan Maja Pahit tersebut diduga besar lengan berkuasa berasal dari kerajaan DOMPO (Menurut Versi masyarakat Dompu). Di dalam sejarah sendiri Gajah Mada tigdak pernah dikenali asal usulnya bahwa spesialis sejarah adalah Profesor Mohamad Yamin yang banyak menulis ihwal Maha Patin Gajah Mada tidak pernah menyebutkan dari mana asal seruan Gajah Mada serta latar belakang kehidupan Gajah Mada sebelum menjadi Maha Patih di Kerajaan Maja Pahit tersebut.

Mengenai kebenaran dongeng tersebut sampai dikala ini belum diperoleh informasi yang jelas atau bukti-bukti sahih untuk mendukung kebenaran dari kisah yang telah berkembang dari verbal ke ekspresi sejak jaman dulu itu, bahkan cerita itu telah menjadi bagian dari sebuah legenda sejarah ditengah-tengah masyarakat "Bumi Nggahi Pahu". Namun yang jelas, perlu mejadi pertanyaan serta kajian sejarah bagi kita semua utamanya masyarakat Dompu mengapa kerajaan besar mirip Kerajaan Maja Pahit di Pulau Jawa itu dulu sangat berpengaruh sekali keinginannya untuk menguasai wilayah kerajaan Dompo waktu itu,ada apa sebenarnya di Kerajaan Dompo saat itu? Misteri ini barang kali dapat terungkap dan pastinya mesti pula melalui suatu kajian kajian ilmiah sejarah lainya.

Kembali ke soal situs klasik WARO KALI, menurut salah seorang tokoh masyarakat kelurahan Kandai I Kecamatan Dompu H. Umar H. Ismail kapada H.R.M. Agoes soeryanto menuturkan bahwa pada tahun 1968 salah seorang warga lokal pernah memperoleh barang-barang kuno di sekeliling lokasi situs WARO KALI, warga tersebut bernama H. Musa (Almarhum). Benda-benda antik itu berbentuksatu lusin piring antik produksi Cina, yang yang dibuat dari bahan keramik serta sebuah wajan besar atau Kampo (Semacam kawasan untuk menyimpan barang tambahan jaman dahulu). Setelah dikerjakan penelitian ternyata benda-benda antik itu dibentuk sekitar era ke-13. Menurut H.Musa H.Ismail, sayangnya benda-benda antic tersebut dikala ini tidak diketahui rimbanya setelah pada saat itu barang-barang yang bernilai sejarah tinggi tersebut diamankan oleh pihak pemerintah waktu itu.

H.Musa yang mendapatkan benda-benda kuno itu sebelumnya pernah berimajinasi didatangi oleh bunyi gaib dan disuruh untuk menggali UWI SARA' (semacam ubi jalar) yang ada di dekat lokasi atau komplek makam situs waru kali. Keesokan harinya sesuai dengan pentunjuk mimpi maka H. Musa langsung menggali UWI SARA yang terletak di akrab kuburan orang tuanya. Setelah digali ternyata didapatkan benda-benda kuno bernilai sejarah tinggi itu.

Di erat komplek situs purbakala waro kali terdapat lokasi pemakamam lazim dimana salah satunya terdapat satu makam tua yang oleh masyarakatsetempat diketahui dengan nama kuburan waro kali atau “RADE WARO KALI". Menurut penduduk lokal kuburan yang usianya telah ratusan tahun itu ialah makam seorang ulama penyebar agama Islam di Dompu, ulama tersebut konon dongeng berasal dari Sumatera bernama Syekh Hasanuddin. Syekh Hasanuddin yang berasal dari Sumatera tersebut alhasil menetap di Dompu (Kandai 1) dan menikah dengan warga setempat hingga kesannya wafat dan dimakamkan di pemakaman Waro Kali tersebut. Kuburan tua yang letaknya dipinggir lokasi makam-makam lazim lainya itu atau tepatnya berdampingan dengan lokasi situs Waro Kali tersebut berdasarkan beberapa tokoh masyarakat lokal,sekitar tahun 1980 -an kuburan tesebut banyak dikunjungi atau diziarahi oleh masyarakat baik warga Dompu maupun masyarakat dari luar Dompu seperti Bima dan Sumbawa.

Bahkan para peziarah itu datang ke makam waro kali untuk mengambil segenggam tanah yang ada di atas kuburan tesebut untuk dijadikan obat."Warga percaya bahwa tanah yang diambil dari makam tua itu mampu dipakai untuk menyembuhkan banyak sekali penyakit yang ada, "Ujar beberapa warga setempat. Kuburan bau tanah yang panjangnya sekitar dua meter setengah itu terdapat dua buah kerikil besar berwarna hitam legam selaku Nisan atau tanda dimana letak atau daerah kuburan itu berada diatas gundukan tanah atau lebih tinggi kalau ketimbang kuburan-kuburan biasa lainya yang berada di lokasi makam waru kali tersebut. Hingga ketika ini belum ada informasi yang jelas dari pihak arkeologi apakah kuburan bau tanah tersebut ada kaitan nya dengan situs klasik Waro Kali yang lokasinya berdekatan dengan Makam dan komplek situs.(*).


Sumber https://www.mooreyi.com/

Selasa, 02 Maret 2021

Museum Kawasan Nusa Tenggara Barat Mengoleksi Benda Bersejarah Pulau Lombok Dan Sumbawa

Museum Daerah Nusa Tenggara Barat Mengoleksi Benda Bersejarah Pulau Lombok dan Sumbawa Museum Daerah Nusa Tenggara Barat Mengoleksi Benda Bersejarah Pulau Lombok dan Sumbawa


Museum Daerah Nusa Tenggara Barat berada kurang lebih 7 km dari sentra Kota Mataram, tepatnya terletak di Jalan Panji Titar Negara No. 6, Kecamatan Ampenan Selatan. Museum ini didirikan pada tanggal 23 Januari 1982 berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan berikutnya disahkan oleh Dr. Daoed Joesoef.

Museum ini banyak mengoleksi benda-benda bersejarah yang didapatkan di Nusa Tenggara Barat. Sudah lebih dari 7.000 koleksi benda-benda bersejarah yang disusun rapi. Benda-benda tersebut disusun berdasarkan unsur-bagian budaya yang ada di Nusa Tenggara Barat, mirip tata cara mata pencaharian, metode organisasi kemasyarakatan, metode religi, dan kesenian, bahasa, sistem teknologi, serta tata cara pengetahuan

Koleksi yang dipajang diruang ekspo menggambarkan sejarah alam dan kehidupan manusia semenjak prasejarah sampai kini. Salah satu komponen budaya yang paling menonjol di museum ini yakni tata cara religi dan kesenian yang memperlihatkan empat kelompok etnik yang ada di Nusa Tenggara Barat, yaitu Sasak dan Bali di Pulau Lombok dan etnik Sumbawa dan Mbojo di Pulau Sumbawa. Di bagian depan bangunan museum bangun sebuah orisinil sasak, ialah berugak dengan arsitektur lebih terbaru.

Museum ini mempunyai pesona tersendiri kalau daripada museum-museum yang lain. Daya tarik tersebut ialah dalam museum ini bukan hanya kaya akan koleksi-koleksi yang tidak cuma berhubungan dengan budaya sasak (suku orisinil Pulau Lombok), namun juga suku suku sekitarnya, seperti Bali, Samawa, dan Mbojo. 

Bangunan museum ini dibagi menjadi dua bab, ialah ruangan depan dan ruangan bazar yang masing-masing terhubung dengan suatu koridor yang terdapat beberapa ilustrasi gambar mengenai budaya Sasak, seperti Gandrung, Rudat, Cepung, Wayang, dan Jaran Kamput. Sementara, pada dinding bab kanan terdapat gambar mengenai Melengke, Toja, Konya, Sak Eco, dan Rebana Rea.

Ruangan pameran museum sendiri terbagi menjadi dua ruangan, ruang I dan ruang II. Ruang festival I lebih banyak menyimpan fosil kuno, mirip fosil Stegodon, Paleokarbau, dan Hypothalamus. Koleksi fosil dari kayu-kayu langka, mirip Rajumas, Cempaka, Lingsar, Kepundung, dan Kelincung juga berada di ruang ini. 

Ruang festival II lebih banyak menampilkan artefak yang berkaitan dengan budaya penduduk lokal. Beragam jenis pakaian adab Sasak, Bali, Mbojo, dan Samawa berada pada ruangan ini. Artefak antik, mirip Arca Siwa Mahadewa (patung kala IX), alat-alat yang dipakai dalam upacara daur hidup dalam keseharian masyarakat (ceret, kendi, pondi, kipas), serta alat-alat yang biasa dipakai untuk penobatan raja-raja pada Kesultanan Bima, Kerajaan Sumbawa, dan Selaparang (Kipas emas) menjadi nilai tersendiri bagi museum ini. 

Para pelancong yang ingin berkunjung ke Museum Daerah Nusa Tenggara Barat mampu menggunakan dua jalur, yakni jalur darat dan udara. Apabila berangkat lewat terminal Mandalika, dapat menggunakan transportasi kota jurusan Cakra - Ampenan, sesudah itu berhenti hingga Perempatan Seruni dan dilanjutkan memakai cindomo (alat angkutankhas Lombok) sampai ke Museum. Perjalanan ditempuh sekitar 30 menit saja.

Museum Daerah Nusa Tenggara Barat dibuka untuk biasa dari hari Selasa hingga hari Sabtu, dari pukul 08.00 - 13.00 WITA. Jadi, bagi para wisatawan yang ingin mengunjungi museum ini harus sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan oleh pengelola.

berikut lokasi di google map


Sumber https://www.mooreyi.com/

Jumat, 12 Februari 2021

Sejarah Masuknya Fatwa Hindu Di Dompu


Sebelum Hindu dan Islam masuk ke wilayah Kerajaan Dompu, penduduk Dompu kuno dikala itu masih menganut budaya Animisme. Hal itu di perkuat dengan ditemukannya beberapa peninggalan arkeologi berupa situs watu kubur, watu gong dan situs batu kadera serta situs nangasia di wilayah kecamatan Hu'u Dompu. Selain itu tim arkeologi juga menemukan beberapa peninggalan antik seperti kerangka manusia beserta peralatan perlengkapan rumah tangga zaman dahulu dan lain sebagainya. Konon di Dompu juga berkembang kebudayaan megalit (kebudayaan kerikil besar). Hal itu dibuktikan dengan adanya temuan situs gunung Doro peti di kawasan kecamatan Pekat Dompu. 

Hasil penelitian oleh tim arkeologi menyimpulkan bahwa jauh sebelum peradaban manusia moderen, di kawasan Hu u Dompu telah bermukim beberapa golongan kehidupan insan.

Sekitar masa ke 14-15, pengaruh kebudayaan Hindhu mulai masuk ke daerah Dompu. Bukti adanya pengaruh Hindhu masuk Dompu dibuktikan dengan ditemukannya beberapa peninggalan arkeologi contohnya situs Waru kali, Situs Candi Sambi Tangga dan komplek situs Doro Bata di Kelurahan Kandai I Kecamatan Dompu Menurut hasil penelitian oleh tim arkeologi disebutkan bahwa, situs Waro Kali disangka merupakan suatu bangunan candi Agama Hindu yang memiliki korelasi dekat dengan situs Doro Bata dan situs candi Sambi Tangga yang kemingkinan ialah pengaruh Majapahit.

Adanya temuan temuan-temuan keramik pada beberapa lokasi disekitar kelurahan Kandai I Dompu seperti di situs Doro Mpana, Waru kali dan Sambi Tangga memberikan perkiraan bahwa pada kurun lalu komunitas di daerah tersebut cukup padat sekali serta aktifitas yang dugunakan cukup luas, terbukti dengan adanya banyak bangunan atau kawasan pemujaan dan tersebarnya temuan-temuan keramik dan tembikar yang disangka untuk kebutuhan hidup penduduk pada periode tersebut.

Sekitar tahun 1331 - 1357, Majapahit dibawah pemerintahan Hayam Wuruk dengan maha patih Gajah Mada mulai melakukan ekspedisi penaklukkan wilayah di nyaris seluruh Nusantara termasuk daerah pulau Lombok dan pulau Sumbawa. Tahun 1357, Majapahit menyerang kerajaan Dompu yang konon berdasarkan sejarah di Dompu, pertama kali Majapahit masuk ke wilayah kerajaan Dompu lewat Hu'u selaku pintu masuk. Selain menguasai daerah, majapahit juga mempunyai misi adalah penyebaran Ajaran Hindu. Menurut dongeng masyarakat Dompu, bukti adanya imbas Majapahit masuk ke kawasan Dompu yaitu dengan adanya beberapa nama desa/kampung di daerah Kecamatan Hu'u yang namanya sama dengan nama Kerajaan di tempat Jawa Timur dimana kerajaan tersebut merupakan tempat atau wilayah kekuasaan kerajaan Majapahit mirip nama Desa Adu, dan Desa Dahu. Adu dan Daha yaitu dua kerajaan besar dibawah kekuasaan Majapahit. 

Dalam buku tebas tanah jawa disebutkan bahwa, sepeninggal Majapahit dari kerajaan Dompu, dibawah komando panglima perang Majapahit adalah Panglima Nala dan panglima Saka (Soko), sebagian pasukan kerajaan Majapahit konon ada yang tinggal dan menetap di kawasan kerajaan Dompu (di Hu'u). Mereka menetap dan menikah dengan penduduk orisinil Hu'u/Dompu hingga mempunyai keturunan. Bisa ditarik kesimpulan bahwa, masyarakat Hu'u sebagian ialah keturunan dari Majapahit. Dalam catatan sejarah juga disebutkan bahwa, pada saat Kerajaan Majapahit menyerang Dompu, pasukan perang yang di bawa ke Dompu ialah pasukan perang yang berasal dari Kerajaan Bali, Kerajaan Daha dan Kerajaan Adu. Ekspedisi tersebut di bawah kontrol Mahapatih Gajah Mada dengan dua orang panglima perang andalan Majapahit adalah panglima Nala dan panglima Saka.




Sumber https://www.mooreyi.com/